MOMENTUM, Jombang--Persaingan menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mengerucut pada tiga nama yang paling banyak diperbincangkan, yakni KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, KH Imam Jazuli, dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.
Ketiganya memiliki latar belakang pendidikan, profesi, dan perjalanan organisasi yang berbeda. Gus Yahya datang sebagai petahana Ketua Umum PBNU, Imam Jazuli dikenal sebagai pengasuh pesantren sekaligus akademisi, sedangkan Gus Kikin merupakan Ketua PWNU Jawa Timur dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.
Berikut profil ketiganya.
1. KH Yahya Cholil Staquf
Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah, 16 Februari 1966. Ia merupakan putra KH Cholil Bisri dan tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren. Gus Yahya juga merupakan keponakan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus.
Pendidikan agama Gus Yahya ditempuh antara lain di Madrasah Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, di bawah asuhan KH Ali Maksum. Ia kemudian menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Yogyakarta dan belajar Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM).
Selain pendidikan formal, Gus Yahya pernah bermukim di Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Pengalaman pendidikannya mempertemukan tradisi pesantren dengan latar ilmu sosial.
Baca Juga: Tiga Nama Mengerucut di Bursa Ketum PBNU: Gus Yahya, Imam Jazuli, dan Gus Kikin
Karier Gus Yahya juga bersentuhan dengan pemerintahan. Ia pernah menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada 1999–2001. Pada 2018, ia dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Di lingkungan NU, Gus Yahya pernah menjabat Katib Aam PBNU. Pada Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021, ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU untuk masa khidmat 2021–2026.
Periode kepemimpinannya tidak lepas dari dinamika internal organisasi. Perselisihan di tubuh PBNU berkembang menjadi konflik terbuka di antara sejumlah elite organisasi, termasuk persoalan kewenangan kepengurusan dan pemberhentian pengurus.
Polemik pengelolaan konsesi tambang juga menjadi salah satu isu yang membayangi kepemimpinannya. Pada Januari 2026, Gus Yahya mengakui isu tambang menjadi salah satu faktor pemicu konflik internal PBNU, meski ia menyebut persoalannya lebih kompleks dan tidak disebabkan satu faktor saja.
Pada Muktamar ke-35 di Tambakberas, Gus Yahya kembali maju untuk mempertahankan kursi Ketua Umum PBNU.
2. KH Imam Jazuli
KH Imam Jazuli merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Jawa Barat. Ia dikenal sebagai tokoh pesantren yang mengembangkan pendidikan dengan memadukan tradisi pesantren dan pendekatan pendidikan modern.
Imam Jazuli lahir di Cirebon pada 17 November 1976. Pendidikan kepesantrenannya antara lain ditempuh di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Setelah menempuh pendidikan pesantren, Imam Jazuli melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia kemudian melanjutkan studi di Malaysia, antara lain di Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Malaya, dengan bidang kajian politik, strategi dan pertahanan.
Latar pendidikan tersebut kemudian berpadu dengan aktivitasnya di dunia pesantren. Imam Jazuli mengembangkan Pesantren Bina Insan Mulia di Cirebon dan menjadikannya salah satu pusat pendidikan dan kaderisasi santri.
Pesantren Bina Insan Mulia berkembang dengan pendekatan pendidikan yang memanfaatkan teknologi dan media. Imam Jazuli juga dikenal aktif dalam pengembangan pendidikan dan sumber daya manusia.
Di organisasi NU, Imam Jazuli bukan figur yang sepenuhnya berada di luar struktur. Ia pernah menjadi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2010–2015 dan tercatat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah.
Dalam bursa Ketua Umum PBNU, Imam Jazuli tampil dengan membawa isu regenerasi, peningkatan kualitas sumber daya santri dan transformasi pesantren.
Latar pendidikan internasional, pengalaman organisasi dan kiprahnya mengembangkan pesantren menjadi modal yang dibawa Imam Jazuli dalam kontestasi Muktamar ke-35.
3. KH Abdul Hakim Mahfudz
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024–2029.
Gus Kikin lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958. Ia berasal dari keluarga besar pesantren. Dari jalur ibunya, Gus Kikin merupakan cicit KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan Pesantren Tebuireng.
Pendidikan agama Gus Kikin ditempuh di lingkungan pesantren, antara lain Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak.
Untuk pendidikan formal, Gus Kikin menempuh SMP dan SMA di Jombang sebelum melanjutkan ke Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka dengan mengambil bidang komunikasi.
Sebelum aktif dalam pengelolaan pesantren dan organisasi NU, Gus Kikin memiliki pengalaman profesional di dunia usaha. Ia pernah bekerja di PT Djakarta Lloyd, termasuk sebagai kepala cabang wilayah Cilegon. Ia juga pernah berkecimpung dalam bisnis ekspor komoditas, mendirikan perusahaan di sektor energi dan terlibat dalam usaha media.
Di lingkungan NU, Gus Kikin pernah terlibat dalam kepengurusan PBNU, antara lain pada bidang ekonomi.
Ia kemudian aktif di Pesantren Tebuireng. Setelah sebelumnya dipercaya sebagai Wakil Pengasuh, Gus Kikin menjadi pengasuh Tebuireng setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah pada 2020.
Pada Konferwil NU Jawa Timur 2024, Gus Kikin terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024–2029.
PWNU Jawa Timur kemudian secara resmi menugaskan Gus Kikin maju sebagai kandidat Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35. Keputusan tersebut disebut merupakan hasil pembahasan internal PWNU Jawa Timur dan bukan atas permintaan pribadi Gus Kikin.
Menjelang pemilihan, nama Gus Kikin juga dikaitkan dengan sebuah “paket” bersama calon Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar yang beredar dengan sebutan “paket Istana”. Namun, Gus Kikin menyatakan tidak mengetahui siapa yang membuat paket tersebut dan menegaskan bahwa paket itu tidak resmi karena mekanisme pemilihan kepemimpinan PBNU masih dibahas.
Ketiganya kini berada dalam satu arena Muktamar ke-35 NU di Tambakberas. Siapa yang akhirnya dipercaya memimpin PBNU untuk periode berikutnya akan ditentukan melalui mekanisme pemilihan dalam forum Muktamar.(*)
Editor: Muhammad Furqon
