Oleh: Ailsa Ardine Artinta - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia - Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
TANAMAN obat telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Jahe, kencur, kunyit, dan temulawak, misalnya, tidak hanya digunakan sebagai bahan jamu, tetapi juga diolah menjadi berbagai makanan dan minuman. Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa tanaman obat memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
Salah satu wilayah yang mempertahankan sekaligus mengembangkan tradisi tersebut adalah Kiringan, Jetis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kampung Sentra Jamu Kiringan dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki tradisi jamu cukup kuat. Tradisi ini telah berkembang sejak sekitar 1950 dan dikaitkan dengan sosok Ibu Joparto yang mempelajari cara meracik jamu, kemudian menjualnya dari Kiringan menuju Yogyakarta dengan cara digendong.
Dari aktivitas tersebut, tradisi jamu gendong berkembang di tengah masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga kini, jamu tidak hanya menjadi bagian dari tradisi, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih beragam.
Salah satu usaha yang memanfaatkan potensi tersebut adalah Jamu Unoi Mandiri. Berada di kawasan Kampung Sentra Jamu Kiringan, usaha ini mengolah berbagai tanaman obat dan rempah menjadi produk herbal. Bahan yang digunakan antara lain jahe, kencur, kunyit, temulawak, secang, kayu manis, cengkeh, dan kapulaga.
Produk yang dihasilkan tidak terbatas pada jamu. Ada pula wedang uwuh, jamu instan, serta berbagai olahan lainnya. Diversifikasi tersebut menjadi salah satu cara mempertahankan keberadaan jamu sekaligus membuat produk berbahan herbal lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Pemanfaatan tanaman obat menjadi salah satu kegiatan yang dipelajari mahasiswa selama melaksanakan magang di Jamu Unoi Mandiri pada 24 Juni hingga 25 Agustus 2026. Kegiatan meliputi persiapan bahan, pengolahan jamu dan wedang uwuh, pengemasan, pengembangan produk pangan, hingga budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana bahan tanaman yang sederhana dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai jual. Pengalaman ini juga memberikan gambaran bahwa ilmu yang dipelajari di ruang kelas dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu produk yang dipelajari adalah wedang uwuh. Minuman ini dibuat dari berbagai bahan, seperti daun secang, jahe, kayu manis, daun pala, cengkeh, dan kapulaga. Perpaduan bahan tersebut menghasilkan warna kemerahan, aroma rempah yang kuat, serta cita rasa yang khas.
Setiap tanaman dan rempah memiliki karakteristik yang berbeda sehingga memengaruhi hasil akhir produk. Dalam pembuatan jamu berbahan kencur dan kunyit, misalnya, air berperan sebagai pelarut yang membantu mengambil komponen tertentu dari bahan tanaman. Proses tersebut dapat diamati melalui perubahan warna, aroma, dan rasa.
Fenomena sederhana itu menunjukkan bahwa ilmu kimia sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karakteristik tanaman obat tidak terlepas dari senyawa kimia yang terkandung di dalamnya. Kunyit dan temulawak, misalnya, memiliki senyawa kurkuminoid yang berkaitan dengan warna kuning khas kedua tanaman tersebut. Jahe memiliki gingerol yang berkontribusi terhadap karakteristik khasnya. Sementara itu, cengkeh, kayu manis, dan kapulaga memiliki berbagai senyawa yang turut memengaruhi aroma dan rasa.
Dengan demikian, pengolahan jamu dan produk herbal dapat menjadi contoh nyata penerapan ilmu kimia yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, mempertahankan tradisi tidak berarti harus berhenti pada bentuk lama. Inovasi diperlukan agar produk herbal dapat terus mengikuti perkembangan selera masyarakat.
Salah satu bentuk inovasi yang dilakukan adalah mengolah bahan herbal seperti beras kencur dan bunga rosella menjadi es krim. Produk tersebut merupakan bentuk diversifikasi yang memungkinkan bahan herbal dinikmati dalam bentuk berbeda dari jamu pada umumnya.
Proses pembuatan es krim juga memperlihatkan penerapan konsep pencampuran, pendinginan, dan pembekuan yang menghasilkan tekstur khas. Inovasi semacam ini dapat menjadi cara untuk mengenalkan bahan herbal kepada masyarakat, terutama melalui bentuk penyajian yang lebih beragam.
Di sinilah tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan. Produk tradisional tidak harus kehilangan identitasnya ketika dikembangkan. Justru, inovasi dapat menjadi jalan agar bahan dan nilai yang terkandung di dalamnya tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Pengembangan tanaman obat juga dilakukan sejak tahap budidaya. Dalam kegiatan magang, mahasiswa turut melakukan budidaya TOGA, antara lain jahe, kencur, dan kunyit menggunakan media polybag.
Kegiatan tersebut memberikan pengalaman mengenai pemanfaatan tanaman obat secara menyeluruh, mulai dari budidaya hingga pengolahan. Budidaya juga membantu menjaga ketersediaan bahan yang diperlukan untuk produksi herbal. Dengan demikian, pemanfaatan tanaman obat tidak hanya berorientasi pada produk akhir, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan bahan bakunya.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah pengemasan. Mahasiswa turut membantu proses pengemasan dan pemasangan stiker produk agar tampil lebih rapi dan menarik. Kemasan bukan sekadar pembungkus, melainkan bagian dari identitas produk.
Tampilan kemasan dapat membantu konsumen mengenali sekaligus membedakan suatu produk dari produk lainnya. Karena itu, pengemasan dan branding menjadi bagian penting dalam pengembangan produk herbal agar mampu bersaing dan menjangkau konsumen yang lebih luas.
Pengembangan jamu juga diperkuat melalui pelatihan dan sosialisasi hilirisasi inovasi jamu berbasis TOGA. Kegiatan tersebut memberikan wawasan mengenai pengembangan produk, optimalisasi rumah produksi, serta penguatan branding Desa Wisata Jamu Kiringan.
Dari sisi pemasaran, produk Jamu Unoi Mandiri dipasarkan melalui penjualan langsung, pemesanan melalui WhatsApp, dan sistem titip jual di tempat oleh-oleh. Beragam saluran pemasaran tersebut membuka peluang agar produk herbal tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi juga menjangkau konsumen yang lebih luas.
Berbagai kegiatan di Jamu Unoi Mandiri memperlihatkan bahwa tanaman obat memiliki potensi untuk terus dimanfaatkan dan dikembangkan. Tradisi jamu yang telah mengakar di Kiringan dapat dipertahankan bukan dengan sekadar mengulang cara lama, melainkan dengan mengembangkan produk sesuai kebutuhan zaman.
Jamu, wedang uwuh, es krim berbahan herbal, hingga produk instan menunjukkan bahwa satu bahan dapat memiliki banyak kemungkinan ketika dipadukan dengan pengetahuan dan kreativitas.
Pada akhirnya, keberlanjutan tradisi jamu tidak hanya bergantung pada kemampuan mempertahankan resep dan cara pengolahan, tetapi juga pada keberanian untuk berinovasi. Budidaya, pengolahan, pengemasan, branding, dan pemasaran merupakan bagian yang saling berkaitan dalam membangun produk herbal yang berkelanjutan.
Dengan menggabungkan tradisi, ilmu pengetahuan, dan inovasi, tanaman obat tidak hanya dapat tetap hidup sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk yang relevan bagi masyarakat masa kini dan generasi mendatang.(*)
Editor: Muhammad Furqon
