Nature, But Make It Skincare: Eksplorasi Etnobotani dalam Produk Akuna

img
Salma Nurarifa Syahrani. Foto: Ist.

Oleh: Salma Nurarifa Syahrani - Mahasiswa Pendidikan Kimia - Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan - UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

PERNAHKAN Anda berpikir tentang apa yang sebenarnya ada di balik sebotol sabun atau sampo yang digunakan setiap hari?

Produk perawatan diri mungkin terlihat sederhana. Tinggal pakai, bilas, lalu selesai. Padahal, sebelum sampai ke tangan konsumen, ada banyak proses yang harus dilalui, mulai dari pemilihan bahan, penimbangan, pencampuran, hingga pemeriksaan karakteristik produk.

Menariknya, sebagian bahan tersebut berasal dari tumbuhan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Selama magang di Akuna, saya menemukan berbagai tumbuhan yang digunakan dalam produk perawatan diri, seperti ginseng Jawa, urang-aring, kunyit, bunga telang, kayu manis, jahe, dan rosemary.

Dari pengalaman itu, saya mulai melihat etnobotani dari sudut pandang yang berbeda.

Etnobotani merupakan bidang yang mempelajari hubungan manusia dengan tumbuhan serta bagaimana tumbuhan dimanfaatkan dalam kehidupan. Ketika magang di Akuna, saya baru menyadari bahwa hubungan tersebut ternyata bisa ditemukan dalam sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian: produk skincare dan perawatan tubuh.

Dari Bangku Kuliah ke Ruang Produksi

Pada semester 4, saya mendapat kewajiban menjalani magang selama 45 hari kerja. Karena sebelumnya sudah mendapatkan mata kuliah Kimia Kosmetik, saya ingin mencari tempat magang yang berkaitan dengan skincare dan produk perawatan diri.

Saya memang menikmati kegiatan formulasi. Sebelumnya, saya pernah membuat berbagai produk, seperti facial wash, body wash, masker, moisturizer, body scrub, hingga body lotion. Karena itu, saya sempat membayangkan akan menjalani magang di sebuah pabrik kosmetik dengan ruang produksi dan laboratorium yang besar.

Namun, tempat yang awalnya saya incar ternyata tidak menerima mahasiswa magang. Saya kemudian meminta rekomendasi kepada guru SMK saya. Dari sanalah saya mengenal Akuna, tempat yang sebelumnya tidak banyak saya ketahui.

Ketika pertama kali datang untuk survei, saya menyadari bahwa Akuna tidak seperti gambaran saya tentang pabrik kosmetik. Skala produksinya lebih sederhana. Namun, justru di tempat itulah pengalaman saya berubah menjadi sesuatu yang tidak saya duga.

Lingkungannya dipenuhi pepohonan, sejuk, dan nyaman. Orang-orang di sana juga ramah. Sebagai mahasiswa magang yang baru mengenal lingkungan kerja, saya cukup mudah beradaptasi karena orang-orang di sana bersedia membantu dan membimbing ketika saya belum memahami sesuatu.

Pada awal magang, saya dikenalkan dengan berbagai ruang, mulai dari tempat penyimpanan bahan, ruang penimbangan, ruang produksi, ruang mixing, hingga ruang pengemasan.

Sebelum masuk ruang produksi, ada sejumlah aturan yang harus dipatuhi. Setiap orang harus menggunakan sandal yang telah disediakan, sarung tangan, dan apron. Bagi yang tidak berhijab, pelindung kepala juga wajib digunakan.

Awalnya, saya menganggap semua itu sekadar bagian dari persiapan sebelum bekerja. Namun, semakin lama, saya memahami bahwa kebersihan dan ketelitian merupakan bagian penting dari proses produksi.

Meskipun bahan yang digunakan sebagian berasal dari alam, proses pengolahannya tetap membutuhkan prosedur dan ketelitian.

Produk pertama yang saya buat adalah bar conditioner dengan arahan salah seorang karyawan bagian produksi. Setelah itu, saya mengenal shampoo bar. Awalnya cukup mengejutkan karena saya lebih terbiasa melihat sampo dan conditioner dalam bentuk cair atau krim. Ternyata, produk perawatan rambut juga dapat dibuat dalam bentuk batang.

Selama 45 hari, saya menjalani sebagian besar kegiatan produksi bersama partner kerja yang mendampingi saya. Dari sana, saya baru mengetahui bahwa produk yang dibuat Akuna cukup beragam. Bukan hanya sampo dan conditioner, tetapi juga hand soap, body soap, toothpaste, body butter, body lotion, conditioner cream, lip balm, perfume balm, deodorant, dan berbagai produk perawatan lainnya.

Setiap produk memiliki karakter dan proses pembuatan yang berbeda.

Shampoo bar, misalnya, membutuhkan campuran bahan dasar atau biang sampo sebelum dimasukkan ke cetakan silikon. Proses pencampurannya membutuhkan tenaga dan ketelitian. Jika bahan tidak tercampur dengan baik, hasilnya bisa kurang sempurna, termasuk dari segi tampilan.

Begitu pula ketika adonan dimasukkan ke dalam cetakan. Adonan harus cukup padat agar hasilnya tidak berlubang atau tidak rata.

Sementara itu, produk berbentuk krim, seperti body butter, conditioner cream, dan body lotion, memerlukan proses pencampuran menggunakan hand blender untuk memastikan bahan tercampur dengan baik dan menghasilkan tekstur yang diinginkan.

Dari situ saya semakin memahami bahwa membuat produk perawatan diri bukan sekadar mencampurkan bahan lalu selesai.

Ada karakteristik produk yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah pH. Pengecekan pH menjadi bagian penting untuk melihat karakteristik produk dan memastikan hasil formulasi sesuai dengan yang diharapkan.

Hal-hal yang sebelumnya lebih sering saya temui dalam teori pembelajaran kimia kini bisa saya lihat secara langsung di meja produksi.

Belajar dari Kesalahan

Tentu saja, saya tidak langsung bisa melakukan semuanya dengan lancar.

Salah satu produk yang cukup membuat saya kewalahan adalah toothpaste. Proses pencampurannya membutuhkan tenaga hingga mendapatkan tekstur pasta yang sesuai. Beberapa kali hasilnya belum seperti yang seharusnya sampai akhirnya saya dibantu partner kerja.

Saya juga pernah melakukan kesalahan karena kurang teliti membaca resep.

Ketika menemukan tulisan honey, saya sempat mengira bahan yang dimaksud adalah honey essential oil. Ternyata yang digunakan adalah madu biasa.

Kesalahan sederhana itu justru memberi saya pelajaran penting: jangan mudah berasumsi.

Jika ada bahan atau instruksi yang belum saya pahami, lebih baik bertanya daripada menerka-nerka.

Hampir satu bulan pertama saya masih sering bertanya kepada partner.

“Setelah ini apa?”

“Bahannya yang mana?”

“Ini dicampur sekarang atau nanti?”

Bukan karena saya hanya membuat satu produk berulang kali. Justru karena produk yang dibuat cukup beragam, saya harus terus menyesuaikan diri dengan resep dan tahapan yang berbeda.

Perlahan, saya mulai hafal letak bahan, memahami urutan pekerjaan, dan mengetahui apa yang harus dilakukan berikutnya. Sampai akhirnya, saya mulai bisa mengerjakan beberapa proses tanpa harus terus bertanya.

Ada satu titik ketika saya menyadari:

Oh, ternyata saya bisa.

Bagi saya, itu salah satu bagian paling berkesan selama magang.

Ketika Tumbuhan Bertemu Kimia

Selain proses produksi, ada hal lain yang menarik perhatian saya: bahan-bahan tumbuhan yang digunakan dalam berbagai produk.

Ada ginseng Jawa yang saya temui dalam classic shampoo, Hetuto, dan shampoo bar. Ada urang-aring yang digunakan dalam beberapa produk perawatan rambut. Ada kunyit yang mengandung kurkumin dan digunakan dalam shampoo bar. Ada pula bunga telang, kayu manis, jahe, dan rosemary yang hadir dalam berbagai formulasi.

Saya memang tidak mendapatkan penjelasan khusus dari pihak Akuna mengenai sejarah atau cerita tradisional di balik masing-masing tumbuhan tersebut. Namun, saya dapat melihat secara langsung bagaimana bahan-bahan itu digunakan dalam proses formulasi.

Dari sinilah saya mulai melihat etnobotani lebih dekat dengan bidang saya sebagai mahasiswa Pendidikan Kimia.

Tumbuhan memiliki beragam bentuk pemanfaatan dalam kehidupan manusia. Pengetahuan tentang tumbuhan kemudian dapat bertemu dengan ilmu kimia ketika bahan-bahan tersebut diolah dan diformulasikan menjadi produk dengan karakteristik tertentu.

Di meja produksi Akuna, pertemuan itu terlihat sederhana.

Tumbuhan tidak lagi sekadar terlihat sebagai tanaman. Ia menjadi bahan yang harus ditimbang, dicampurkan, diproses, dan diperhatikan karakteristiknya. Ada yang menjadi bagian dari sampo, shampoo bar, conditioner, body care, dan berbagai produk lainnya.

Pengalaman tersebut membuat konsep yang selama ini saya pelajari di bangku kuliah terasa lebih nyata.

Kimia ternyata tidak hanya berada di laboratorium atau di dalam buku. Kimia juga hadir dalam produk yang kita gunakan setiap hari.

45 Hari yang Lebih dari Sekadar Magang

Selama 45 hari kerja di Akuna, tentu saya tidak menjalani semuanya sendirian. Ada orang-orang di bagian produksi, packing, HRD, kebersihan, dan pengelolaan usaha yang memiliki tugas masing-masing. Ada pula pekerja paruh waktu dan mahasiswa magang lain yang sedang melakukan penelitian untuk skripsi.

Masing-masing memiliki pekerjaan dan kesibukan berbeda. Namun, justru keberadaan mereka membuat suasana di Akuna terasa hidup.

Hal yang paling saya sukai adalah suasananya. Orang-orang di sana ramah dan mau membantu. Saya bisa bertanya tanpa merasa sungkan ketika belum mengetahui sesuatu. Saya juga belajar memperbaiki kesalahan ketika melakukan kekeliruan.

Bagi mahasiswa yang baru masuk ke lingkungan kerja, hal itu sangat berarti.

Saya tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang produk, tetapi juga belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan menyesuaikan diri dengan orang-orang yang memiliki tanggung jawab berbeda.

Ada pula pengalaman tak terduga sekitar satu setengah bulan setelah magang dimulai. Saat itu, Akuna mendapat liputan dari Antara TV mengenai produksi kosmetik. Beberapa dari kami diminta membantu pengambilan gambar.

Saya bahkan mendapat kesempatan ikut berkontribusi dalam menunjukkan proses produksi. Pengambilan gambar dan pengulangan adegan dilakukan beberapa kali.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa kegiatan magang akan membawa saya pada pengalaman seperti itu.

Jika harus menggambarkan Akuna dengan tiga kata, saya memilih: terima kasih, nyaman, dan seru.

Setelah 45 hari berada di sana, saya membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman membuat produk.

Saya belajar bahwa di balik sebuah produk perawatan diri terdapat banyak hal yang saling berkaitan: bahan alam, manusia, proses produksi, kebersihan, ketelitian, dan ilmu kimia.

Saya juga semakin menyadari bahwa pembicaraan tentang hubungan manusia dan tumbuhan tidak selalu harus dilakukan dalam konteks yang jauh atau rumit. Hubungan itu bisa ditemukan dalam sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan dalam produk yang kita gunakan untuk merawat diri.

Tumbuhan bertemu dengan pengetahuan.

Pengetahuan bertemu dengan kimia.

Dan dari sana, alam hadir dalam bentuk yang berbeda.

Nature, but make it skincare. (*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos