Oleh: Alya Faiza Rafif - Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
SEBAGAI mahasiswa Pendidikan Kimia, saya semakin menyadari bahwa ilmu kimia tidak cukup hanya dipahami melalui teori dan praktikum di bangku kuliah. Ada banyak hal yang baru benar-benar terasa ketika kita berhadapan langsung dengan dunia kerja.
Kesadaran itulah yang mendorong saya memilih Balai Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai tempat magang. Selama dua bulan, 22 Juni hingga 22 Agustus 2026, saya mendapat kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana ilmu yang selama ini dipelajari di kelas diterapkan dalam pekerjaan laboratorium lingkungan.
Pada hari pertama, seluruh peserta magang dari berbagai universitas dikumpulkan dan kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok mendapat seorang analis yang bertugas sebagai pembimbing.
Saya ditempatkan pada bagian pengujian Chemical Oxygen Demand (COD) dan juga mempelajari pengujian sulfat bersama seorang mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada.
Balai Laboratorium DLHK DIY melakukan berbagai pengujian terhadap sampel lingkungan, khususnya air dan air limbah. Parameter yang diuji antara lain COD, Biochemical Oxygen Demand (BOD), Total Suspended Solids (TSS), sulfat, nitrat, nitrit, dan deterjen.
Selama berada di bagian COD, saya berkesempatan mengenal lebih jauh proses pengujian salah satu parameter penting dalam analisis air dan air limbah. Berdasarkan SNI 6989.2:2019, pengujian COD dilakukan dengan metode refluks tertutup secara spektrofotometri menggunakan oksidator dikromat.
Bagi saya, istilah dan prosedur tersebut sebelumnya lebih banyak hadir sebagai materi pembelajaran. Namun, ketika berada di laboratorium, semuanya menjadi lebih nyata. Ada sampel yang harus dipersiapkan, alat yang harus dicuci, prosedur yang harus diikuti, hingga hasil yang harus diperhatikan dengan teliti.
Hari pertama diisi dengan penjelasan prosedur oleh analis. Pada hari-hari berikutnya, saya dan teman satu kelompok mulai diberi kesempatan untuk melakukan beberapa pekerjaan secara lebih mandiri.
Kegiatan yang saya lakukan antara lain preparasi sampel, mencuci alat, pemusnahan sampel, serta beberapa kali mengikuti proses pengujian secara langsung.
Dari kegiatan sederhana tersebut, saya mulai memahami bahwa pekerjaan laboratorium menuntut ketelitian pada setiap tahap. Kesalahan kecil dalam proses dapat memengaruhi hasil yang diperoleh.
Belajar dari Kesalahan
Salah satu pengalaman yang paling saya ingat selama magang justru berasal dari sebuah kesalahan.
Setiap sampel memiliki kode dan wadah yang berbeda. Ada yang menggunakan botol kecil, botol kaca, maupun jerigen. Penggunaan wadah tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pengujian.
Pada suatu kesempatan, saya dan teman satu kelompok kurang memahami perbedaan tersebut. Akibatnya, kami menggunakan wadah yang tidak sesuai ketika melakukan preparasi sampel COD. Hasil pengujian yang diperoleh pun kurang baik.
Kesalahan itu tentu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Namun, dari sana saya justru mendapatkan pelajaran yang lebih penting.
Saya semakin memahami bahwa ketelitian di laboratorium bukan sekadar teori yang dipelajari di perkuliahan. Ketelitian merupakan bagian dari tanggung jawab terhadap pekerjaan.
Analis yang membimbing kami menjelaskan kesalahan tersebut dengan sabar dan memberikan arahan agar hal serupa tidak terulang kembali. Dari situ saya belajar bahwa kesalahan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah proses belajar. Dengan evaluasi dan bimbingan yang tepat, kesalahan dapat menjadi kesempatan untuk memahami pekerjaan dengan lebih baik.
Bukan Hanya Tentang Kimia
Selama dua bulan magang, saya mendapatkan pengalaman yang tidak sepenuhnya saya temui dalam praktikum perkuliahan.
Saya belajar bekerja lebih mandiri, berkomunikasi dengan orang lain, menjaga ketelitian, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan. Berinteraksi dengan peserta magang dari berbagai universitas juga membuka kesempatan bagi saya untuk mendapatkan teman serta pengalaman baru.
Tentu saja, kegiatan magang tidak selalu mudah. Ada kalanya pekerjaan terasa melelahkan. Namun, rasa lelah tersebut sebanding dengan pengetahuan dan pengalaman yang saya dapatkan.
Magang ini juga menjawab rasa penasaran saya tentang bagaimana pekerjaan di lingkungan dinas, khususnya laboratorium lingkungan, dilakukan secara langsung. Saya melihat bahwa pekerjaan laboratorium bukan hanya tentang mengikuti prosedur, tetapi juga membutuhkan kedisiplinan, komunikasi, kerja sama, dan tanggung jawab.
Bagi mahasiswa, pengalaman semacam ini penting karena dunia kerja memiliki dinamika yang berbeda dengan ruang kelas. Di kampus, kesalahan dalam praktikum mungkin menjadi bagian dari proses pembelajaran. Di dunia kerja, setiap proses memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
Pulang Membawa Lebih dari Sekadar Angka
Dua bulan di Balai Laboratorium DLHK DIY akhirnya mengubah cara saya memandang hasil pengujian laboratorium.
Sebelumnya, angka mungkin terlihat sebagai hasil akhir dari sebuah proses. Kini saya memahami bahwa di balik setiap angka terdapat rangkaian pekerjaan yang harus dilakukan dengan cermat.
Ada sampel yang harus diperlakukan dengan benar, alat yang harus dipastikan bersih, prosedur yang harus dipatuhi, serta orang-orang yang bekerja sama untuk memastikan proses berjalan sebagaimana mestinya.
Karena itu, pekerjaan laboratorium sesungguhnya bukan sekadar menghasilkan angka dari sebuah sampel. Di balik setiap hasil pengujian terdapat ketelitian, tanggung jawab, kerja sama, dan kemauan untuk terus belajar.
Saya pulang dari pengalaman magang ini tidak hanya membawa pengetahuan mengenai COD dan pengujian lingkungan. Saya juga membawa pengalaman bekerja, teman-teman baru, serta pemahaman yang lebih nyata tentang dunia laboratorium.
Bagi saya, itulah makna sebenarnya dari magang: membawa ilmu dari ruang kelas untuk bertemu dengan kenyataan, kemudian pulang dengan pemahaman yang lebih utuh.(*)
Editor: Muhammad Furqon
