Belajar, Beradaptasi, dan Bekerja di Laboratorium Mikrobiologi

img
Elma Ratna Fadhilah

Oleh: Elma Ratna Fadhilah - Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

KETIKA pertama kali mengetahui lokasi magang saya berada di Laboratorium Mikrobiologi, satu pertanyaan langsung terlintas: apa yang bisa dilakukan seorang mahasiswa Pendidikan Kimia di sana?

Selama perkuliahan, dunia saya berkutat pada larutan, reaksi, senyawa, dan rangkaian praktikum kimia. Kini, saya harus berhadapan langsung dengan mikroorganisme, media pertumbuhan, kultur, hingga beragam pengujian mikrobiologi. Ranahnya memang bertolak belakang. Namun, persinggungan lintas bidang inilah yang membuat dinamika magang menjadi menarik.

Selama lima minggu—sejak 22 Juni hingga 24 Juli 2026—saya menimba pengalaman di PT Centra Biotech Indonesia. Perusahaan bioteknologi ini berfokus pada pengembangan, produksi, dan pemasaran produk berbasis mikroorganisme untuk sektor pertanian, peternakan, serta perikanan. Dengan visi menjadi tiga besar produsen pupuk hayati di Indonesia pada 2035, perusahaan ini berkomitmen mendukung kesejahteraan petani melalui solusi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Langkah awal diawali dengan pembekalan dari tim Human Resources Development (HRD). Selain membedah visi, misi, dan fokus pemulihan kesuburan tanah lewat mikroorganisme regeneratif, kami diperkenalkan pada budaya kerja "AJAIB"—singkatan dari Amanah, Jujur, Antusias, Inisiatif, dan Berwawasan. Nilai-nilai ini mewarnai interaksi harian antar-karyawan, berkelindan harmonis dengan rutinitas spiritual seperti salat berjamaah, senam Jumat, hingga tadarus bersama.

Usai pembekalan umum, ritme kerja bergeser ke lingkungan Laboratorium Mikrobiologi. Pembimbing lapangan membekali saya dengan pemahaman Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)—mulai dari penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), kebersihan area kerja, teknik aseptik, hingga tata cara pengoperasian alat.

Aktivitas inti laboratorium dimulai dari pembuatan media pertumbuhan mikroorganisme, seperti Nutrient Agar (NA) dan Potato Dextrose Agar (PDA). Proses ini menuntut ketelitian tinggi saat penimbangan bahan dan pengukuran volume sebelum diakhiri dengan proses sterilisasi menggunakan autoklaf selama 40 menit.

Saya juga terlibat dalam pemeliharaan (rekultur) kultur bakteri dan jamur. Di sini, penguasaan teknik aseptik menjadi kunci mutlak untuk mencegah kontaminasi. Salah satu praktik mendalam yang saya jalani adalah perbanyakan Trichoderma menggunakan media nasi—jamur antagonis yang dimanfaatkan sebagai agen hayati pengendali penyakit tanaman.

Di luar ranah kultivasi, laboratorium memegang peran krusial dalam quality control (QC). Sampel hasil produksi diuji secara ketat berdasarkan parameter tertentu untuk menjamin kualitas dan konsistensi produk sebelum dilempar ke pasar. Laboratorium bukan sekadar ruang pengamatan, melainkan benteng pertahanan mutlak dalam rantai produksi.

Beberapa teknik analisis yang saya pelajari antara lain Total Plate Count (TPC)—menghitung jumlah mikroorganisme hidup melalui metode Pour Plate dan Spread Plate—serta preparasi sampel untuk pengamatan protozoa lewat mikroskop yang membutuhkan tahapan penyaringan hingga sentrifugasi secara presisi.

Selama menjalani setiap prosesnya, saya menemukan titik temu yang nyata antara kimia dan mikrobiologi. Preparasi bahan, akurasi penimbangan, kontrol parameter, hingga kebersihan alat pada dasarnya merupakan keterampilan dasar (laboratory skills) yang kerap saya temui di jurusan Pendidikan Kimia. Perbedaannya hanya terletak pada objek analisis dan tujuan akhirnya.

Pengalaman ini tidak hanya menguji teori, tetapi juga menempa pemahaman saya tentang ritme kerja industri: kedisiplinan waktu, kepatuhan terhadap standar operasional (SOP), pencatatan data yang presisi, serta komunikasi antartim.

Lima minggu di PT Centra Biotech Indonesia memperluas cakrawala berpikir saya. Dunia industri membuktikan bahwa fondasi keilmuan kimia dapat beradaptasi dan memberi nilai tambah pada disiplin ilmu lain. Pada akhirnya, proses belajar sejatinya tidak pernah terbatas oleh dinding ruang kuliah atau label satu bidang ilmu saja. (*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos