MOMENTUM, Liwa--Bupati Lampung Barat (Lambar) Parosil Mabsus menegaskan literasi menjadi salah satu kunci untuk mengentaskan kemiskinan. Menurutnya, kemampuan mengakses dan mengolah informasi harus bermuara pada kreativitas, produktivitas, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Hal itu disampaikan Parosil saat membuka Festival Literasi 2026 di pelataran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lampung Barat, Selasa (20-10-2026).
Parosil mengatakan literasi tidak sebatas membaca buku, tetapi juga membuka wawasan dan membekali masyarakat untuk menyelesaikan persoalan.
"Literasi itu membuka wawasan, membuka cakrawala, jendela dunia. Semua muaranya itu literasi. Kalau produktif, dia bisa menyelesaikan semua persoalan," tegasnya.
Dia menilai pengetahuan yang diperoleh melalui literasi dapat menjadi modal masyarakat untuk keluar dari kemiskinan. Karena itu, gerakan literasi tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, tetapi harus melibatkan seluruh perangkat daerah.
"Membaca itu melahirkan kreativitas. Hari ini kita bicara hilirisasi, merubah bentuk dan merubah rasa," katanya.
Parosil juga meminta para pegiat literasi menjaga keberlangsungan gerakan tersebut. Menurut dia, literasi merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan dan kesejahteraan masyarakat Lambar.
Festival Literasi 2026 tidak hanya berfokus pada budaya baca, tetapi juga menyasar pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan. Pemkab Lambar menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung untuk menghadirkan pojok literasi keuangan di tengah maraknya pinjaman online ilegal dan investasi bodong.
Deputi Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Lampung Ety Elyati mengatakan, edukasi tersebut merupakan bagian dari Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan).
Melalui program itu, masyarakat didorong menerapkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis, sebelum menggunakan produk atau layanan keuangan.
"Legal artinya memastikan produk keuangan terdaftar dan diawasi OJK. Logis artinya tidak tergiur keuntungan yang tidak masuk akal. Harapannya masyarakat bisa Kenali, Cegah, dan Lapor jika menemukan aktivitas keuangan ilegal, investasi bodong, maupun pinjaman online ilegal," kata Ety.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lambar Dahlin mengatakan, festival yang didukung Perpustakaan Nasional tersebut dirancang untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi.
Menurutnya, kolaborasi dengan OJK penting di tengah pesatnya digitalisasi yang memudahkan masyarakat mengakses informasi keuangan, tetapi sekaligus meningkatkan risiko penipuan. "Tujuannya supaya keuangan masyarakat bisa terkelola dan terhindar dari penipuan," kata Dahlin. (**)
Editor: Munizar
