MOMENTUM, Bandarlampung--Pada Selasa, 20 Oktober 2026, Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, antara Lampung dan Banten, kembali mengalami tiga kali erupsi.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melarang warga, wisatawan, dan pendaki mendekati kawasan gunung api tersebut dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.
Larangan itu diberlakukan menyusul status aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada pada Level III (Siaga).
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, masyarakat harus mematuhi batas aman tersebut karena aktivitas vulkanik masih menunjukkan peningkatan.
Berdasarkan laporan pos pengamatan, erupsi pertama terjadi pada pukul 06.27 WIB dengan amplitudo maksimum 67 milimeter dan durasi 3 menit 53 detik. Erupsi kedua menyusul pada pukul 06.40 WIB dengan amplitudo 49 milimeter.
Aktivitas berlanjut pada siang hari. Erupsi ketiga tercatat terjadi pukul 12.28 WIB dengan amplitudo maksimum 44 milimeter dan durasi 28 detik.
Tinggi kolom abu dari ketiga erupsi tersebut tidak teramati secara visual. Kondisi itu disebabkan sebaran abu yang menghalangi pengamatan serta perangkat kamera pengawas (CCTV) di lapangan yang sempat tidak aktif.
Selain melarang aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi, Badan Geologi menetapkan pembatasan di sekitar kemunculan pulau baru di kawasan tersebut. Masyarakat dilarang memasuki wilayah dalam radius satu kilometer dari pulau baru, terutama di sektor barat laut dan tenggara.
Lana mengingatkan masyarakat agar mewaspadai sejumlah potensi bahaya, antara lain lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak material vulkanik panas dengan air laut atau air hujan.
Meski terjadi tiga kali erupsi, masyarakat di wilayah pesisir Lampung dan Banten diminta tetap tenang dan tidak panik. Badan Geologi juga mengimbau warga tidak mudah mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, khususnya kabar bohong mengenai potensi tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat yang membutuhkan informasi terkini mengenai aktivitas gunung api tersebut dapat menghubungi Pos Pengamatan Gunung Api Krakatau di Pasauran, Banten.(*)
Editor: Muhammad Furqon
