Fantasi Virtual Tourism Warnai Trend Baru Berwisata

img
Dyaloka Puspita Ningrum,S.I.Kom.,M.I.Kom

MOMENTUM, Bandarlampung--“Apa kabar sektor pariwisata kita saat ini ?”. Banyak orang yang mengatakan bahwa mengulik kegiatan pariwisata tidak akan pernah ada habisnya di jaman sekarang.

Seperti di Indonesia, pariwisata menjadi industri besar yang cepat tumbuh dan berkembang dibandingkan dengan beberapa industri lain. Uniknya, sinergitas pariwisata dengan kegiatan ekonomi kreatif sudah menjadi kolaborasi yang dapat memberikan formulasi branding terhadap eksistensi suatu daerah.

Menyikapi fase kenormalan baru dengan segala persiapan di setiap destinasi wisata, tentu harus didasari dengan tanggung jawab penuh dari para pemangku kepentingan maupun pelaku wisatanya.

Fenomena yang ada, secara perlahan membawa publik kepada masa transisi yang berpengaruh terhadap masing-masing sektor krusial ke depannya. Berbagai kampanye berbasis digital dari masyarakat yang menitikberatkan pada kegiatan pariwisata domestik diprediksi akan menjadi masa depan dan platform baru yang berorientasi pada model pariwisata berkelanjutan.

Yang paling utama, kampanye itu harus didukung oleh infrastruktur dalam hal ini yaitu kelancaran internet yang stabil dan disempurnakan serta faktor lain seperti kecerdasan sumber daya manusia sebagai user yang memang harus melek media setiap waktunya.

Kampanye kembali berwisata termasuk bagian dari gerakan khas untuk membangkitkan semangat kolektif di seluruh lapisan masyarakat agar bahu membahu dalam berkontribusi menyelamatkan sektor pariwisata.

Tidak ada pilihan, aspek keselamatan dan kesehatan pengunjung maupun pengelola menjadi kontrol untuk dapat menghidupkan kembali produk pariwisata secara bertahap. Istilah virtual tourism pun sudah meramaikan dunia maya.

Melalui kegiatan virtual tourism itulah, calon wisatawan akan dibawa berimajinasi secara nyata menggunakan panca inderanya dalam mengexplore dan menyinggahi setiap objek wisata yang disuguhkan tanpa harus berpergian jauh. Apalagi, ketatnya persyaratan setiap orang untuk melakukan perjalanan ke suatu tempat akibat pandemi yang terjadi saat ini.

Virtual tourism menawarkan pengalaman yang lebih efisien dari sisi waktu dan biaya. Vitalnya, virtual tourism tersebut tidak boleh sembarang dilakukan.

Menciptakan nilai jual untuk objek wisata yang bersangkutan harus dikemas semenarik mungkin, salah satunya melalui teknik marketing komunikasi yang dilengkapi dengan efek suara, musik, narasi maupun teks dalam bentuk konten foto dan video yang lebih variatif.

Layaknya perjalanan wisata secara langsung, sensasi virtual tourism idealnya berdurasi selama 1-2 jam agar dapat memberikan kepuasan psikologis untuk para wisatawan yang berpartisipasi di dalamnya. Pihak pelaksana kegiatan tersebut bisa dari agen perjalanan, komunitas penggiat wisata, lembaga perguruan tinggi, maupun pemerintah yang harus berperan aktif sebagai public relations untuk membentuk citra/image positif kepariwisataan di suatu daerah agar menjadi lebih baik lagi. 

New Spirit sebagai Nafas Baru Pariwisata

Tidak hanya 10 Bali baru yang digagas sebagai ikon pariwisata di Indonesia. Ada banyak jenis wisata unggulan lainnya, terutama yang bisa dipromosikan secara online mulai dari: wisata bahari, wisata belanja, wisata kuliner, wisata sejarah, wisata budaya maupun wisata kesehatan di berbagai pelosok daerah.

Inovasi virtual tourism melengkapi dimensi pariwisata dan kegiatan ekonomi kreatif di dalam kehidupan masyarakat. Adanya izin dari pemerintah daerah yang akan dikunjungi, penarikan registrasi, pemandu wisata professional dengan pasokan informasi yang akurat, layanan pusat oleh-oleh yang tersedia disekitaran objek wisata dan siap mematuhi peraturan yang ditetapkan merupakan tata cara maupun rangkaian perjalanan ekslusif untuk ditelusuri oleh calon wisatawan dengan berbasis kecanggihan teknologi tentunya.

Harga yang ditawarkan untuk kegiatan tersebut relatif murah yang kadang sifatnya sukarela ataupun donasi sehingga bisa menjangkau semua kalangan wisatawan. Bahkan, virtual tourism ada juga yang tidak berbayar/gratis. Namun memang ada keterbatasan untuk jumlah partisipannya sendiri yang bisa bergabung bersama di dalam ruang virtual tourism tersebut.

Selama ini memang kegiatan pariwisata sering kali berkaitan dengan kelatahan publik yang gemar berkumpul untuk mendapatkan kesenangan maupun merefresh pikiran dari padatnya aktifitas sehari-hari.

Adanya virtual tourism bukan berarti ditiadakannya juga suatu perjalanan wisata secara langsung ke destinasi yang akan dituju, justru sekarang menjadi lebih terangkum satu paket keseluruhan yang tetap memiliki nilai entertainment untuk memudahkan calon wisatawan berkeliling nusantara setiap waktunya. Kekuatan media mainstream seperti tiktok, youtube, instagram, facebook ataupun twitter secara inspiratif mulai membombardir keberadaan virtual tourism tersebut.

Alternatif virtual tourism menjadi sumber informasi dan wadah untuk menambah wawasan calon wisatawannya sebelum yang bersangkutan dapat terjun ke objek wisata yang sesungguhnya.

Virtual tourism sebagai start up di bidang pariwisata sebagai inovasi yang memberikan peluang  gaya hidup baru yang diharapakan dapat menjadi cara untuk bertahan yang disesuaikan dengan kondisi terkini sekaligus sebagai hiburan khusus kepada masyarakat di tengah hantaman pandemi covid-19.

Dalam hal ini pun terlihat bahwa kebijakan pemerintah telah banyak dikomunikasikan, sehingga saat ini bagaimana publik mengkomunikasikannya dengan seksama. Setidaknya, sektor pariwisata melalui kegiatan virtual tourism ini mulai menunjukkan titik kesiapannya. Yuk luangkan waktu kalian untuk mencoba.(**)

Oleh: Dyaloka Puspita Ningrum,S.I.Kom.,M.I.Kom, penulis adalah dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram.




Leave a Comment