Beda Rasa

img
Andi S Panjaitan, Pemred Harian Momentum.

MOMENTUM--Betapa menarik sajian masakan itu. Rasanya pasti nikmat sekali. Kalimat itu tebersit di hati, ketika melihat sebuah hidangan yang disajikan koki ternama, dalam tayangan video.

Menunya sih sederhana. Hanya nasi goreng spesial. Tampilannya juga tidak jauh berbeda dengan nasi goreng pada umumnya. Seperti yang tersaji di restoran maupun penjual gerobak di jalanan.

Lantas apa yang membuat nasi goreng buatan koki itu menarik? 

Ada irisan cabai merah berbentuk hati di atas piring yang dia sajikan. Selain itu, ada juga irisan timun, tomat dan daun selada. Ditambah kerupuk dan telor yang ditata sedemikian rupa. Sehingga membuat air liur kian meleleh untuk segera menyantapnya.

Ya, meski bahan dasar dan bumbu yang digunakan koki itu sama dengan yang digunakan istri di rumah, tentu rasanya berbeda. Dimana letak perbedaannya? Tentu ada pada saat proses memasaknya. 

Begitu pula dengan makanan lain. Seperti ketoprak contohnya. Meski bahan dasar dan tampilannya sama, tapi rasa ketoprak di Bandarlampung pasti berbeda dengan di Tulangbawang. Karena cara meraciknya tidaklah sama. 

Pun begitu dengan tulisan. Sifatnya tidak jauh berbeda dengan masakan. Meski temanya sama, sudut pandangnya serupa, waktu penulisannya pun tidak jauh berbeda. Tetapi hasil tulisannya tidak akan pernah sama.

Sebab, masing- masing penulis punya kakarter dan gaya bahasa yang berbeda. Ada yang suka menggunakan kata yang bersifat intelek. Ada juga yang lebih cenderung memilih kata sederhana, agar mudah dipahami semua golongan (pembaca). 

Ada yang gemar menggunakan kata sarkasme agar mudah viral karena konotasi bahasanya sangat vulgar dan cenderung kasar saat menyindir seseorang.

Tapi ada juga yang memilih kata bernada satire. Cukup dengan sindiran halus atau melalui kata- kata yang terkesan candaan ketika ingin menyampaikan pesan dalam tulisan.

Nah, sebagai pembaca anda lebih suka gaya mana? Tentu jawabannya akan berbeda. Tergantung selera. 

Para pembaca pemula tentu akan lebih tertarik pada tulisan yang bersifat sarkasme. Sedangkan orang yang gemar membaca pasti lebih menyukai gaya penulisan satire. 

Pastinya, beda penulis beda pula gaya bahasanya. Begitu pun soal makanan. Beda koki pasti beda juga rasa masakannya. Tabik Pun. (**)


Editor: Agus Setyawan


Berita Terkait

Leave a Comment