STIT Pringsewu Gelar Seminar Pendidikan Berbasis Al-Qur’an, Hadirkan Mantan Menteri Agama

img
Mantan Menteri Agama, Said Agil Husin Al Munawar, diapit Pembina Yayasan Startech Fauzi, dan Direktur Pascasarjana STIT Pringsewu Salamun. Foto: Ist.

MOMENTUM, Pringsewu--STIT Pringsewu menggelar Seminar Pendidikan Berbasis Al-Qur’an bertema “Urgensitas dan Tantangan” dengan menghadirkan mantan Menteri Agama RI periode 2001–2004, Said Agil Husin Al Munawar, di kampus setempat, Minggu (17/5/2026). 

Seminar tersebut menyoroti pentingnya penguatan pendidikan Islam berbasis nilai-nilai Al-Qur’an di tengah tantangan era digital dan krisis karakter.

Kegiatan akademik yang berlangsung di Kampus STIT Pringsewu itu diikuti seluruh dosen dan staf kampus. Hadir pula Pembina Yayasan Startech Fauzi, Ketua STIT Pringsewu Iis Maisaroh, serta Direktur Pascasarjana STIT Pringsewu Salamun. 

Seminar ini menjadi bagian dari komitmen STIT Pringsewu dalam memperkuat budaya akademik yang berlandaskan nilai-nilai keislaman, sekaligus menjawab tantangan pendidikan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang semakin kompleks.

Dalam sambutannya, Pembina Yayasan Startech Fauzi menegaskan bahwa pendidikan Islam harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pondasi utama pendidikan.


“Pendidikan berbasis Al-Qur’an harus menjadi kekuatan dalam membangun generasi yang cerdas, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan global. Kemajuan zaman tidak boleh membuat dunia pendidikan kehilangan arah dan nilai,” ujar Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Ia berharap STIT Pringsewu terus berkembang menjadi lembaga pendidikan tinggi Islam yang unggul, inovatif, serta tetap menjaga ruh keislaman dalam setiap proses akademiknya.

Sementara itu, Ketua STIT Pringsewu Iis Maisaroh menyampaikan bahwa pendidikan berbasis Al-Qur’an harus menjadi pondasi utama dalam membangun generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan spiritualitas yang kuat.

“Pendidikan hari ini tidak cukup hanya mencetak peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu membentuk adab, moral, dan spiritualitas. Nilai-nilai Al-Qur’an harus menjadi ruh dalam seluruh proses pendidikan,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Said Agil Husin Al Munawar menekankan bahwa tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan hanya kemajuan teknologi, melainkan juga krisis nilai dan karakter yang mulai dirasakan di berbagai lini kehidupan masyarakat.

“Al-Qur’an bukan sekadar dibaca dan dihafal, tetapi harus menjadi pedoman hidup serta landasan dalam membangun sistem pendidikan. Pendidikan Islam harus mampu melahirkan manusia yang berilmu, beradab, dan memiliki kepedulian terhadap kemanusiaan,” jelasnya.

Menurutnya, peran dosen dan tenaga pendidik menjadi sangat penting dalam menghadapi era digital yang sarat tantangan moral dan budaya. Pendidik dituntut menjadi teladan dalam membangun integritas dan akhlak generasi muda.

“Kemajuan teknologi tidak boleh menjauhkan manusia dari nilai-nilai ketuhanan. Justru pendidikan Islam harus mampu memanfaatkan perkembangan zaman untuk memperkuat peradaban yang berakhlakul karimah,” tambahnya.

Seminar berlangsung interaktif melalui diskusi dan refleksi mengenai implementasi pendidikan berbasis Al-Qur’an di lingkungan perguruan tinggi. Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.

Melalui seminar tersebut, STIT Pringsewu berharap dapat terus memperkuat perannya sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam yang unggul, adaptif, dan berkarakter, sekaligus melahirkan insan akademik yang berintegritas dan berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an. (**)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos