Oleh: Majid Lintang
Pagi belum benar-benar selesai ketika aroma gula dan santan mulai mengambang di udara.
Di sebuah dapur produksi di Garut, api menyala di bawah kuali besar. Di atasnya, adonan berwarna kecokelatan bergerak perlahan setiap kali pengaduk kayu berputar. Tidak ada suara yang tergesa-gesa. Hanya bunyi adonan yang berat disentuh kayu, seperti seseorang sedang mengaduk tanah basah.
Dodol tidak pernah mengenal jalan pintas.
Ia membutuhkan panas.
Ia membutuhkan tenaga.
Dan yang paling penting, ia membutuhkan waktu.
Tepung ketan, gula, santan dan bahan-bahan lain yang pada mulanya terpisah, perlahan-lahan kehilangan bentuk asalnya. Mereka melebur menjadi satu massa yang pekat, lengket dan elastis. Semakin lama dimasak, semakin berat pula tangan yang mengaduknya.
Barangkali itulah sebabnya dodol terasa berbeda dari makanan manis lainnya.
Manisnya bukan datang begitu saja.
Ia telah melewati api.
Telah melewati keringat.
Telah melewati kesabaran.
Dan di Garut, kesabaran itu kemudian menjadi identitas.
---
Orang boleh menyebut Garut dengan banyak nama.
Kota berhawa sejuk.
Kota domba.
Kota jeruk.
Kota yang dikelilingi gunung.
Tetapi ada satu sebutan yang paling mudah membuat orang Indonesia tersenyum ketika mendengarnya:
Kota Dodol.
Nama itu begitu melekat sehingga dodol seakan bukan lagi sekadar makanan yang dibuat di Garut. Ia telah menjadi semacam kartu nama.
Pergilah ke luar daerah. Katakan bahwa Anda orang Garut.
Bisa jadi pertanyaan pertama yang datang bukan tentang gunung, bukan tentang sawah, bahkan bukan tentang cuaca.
“Dari Kota Dodol, ya?”
Dodol telah menjadi cara sederhana orang mengenali sebuah kota.
Pemerintah Kabupaten Garut mencatat industri dodol berkembang sejak 1926, dikaitkan dengan seorang pengusaha bernama Ibu Karsinah. Dari proses yang sederhana, industri itu tumbuh dan berkembang menjadi salah satu komoditas yang mengangkat citra Garut. Dodol Garut kemudian dikenal karena rasa khas dan kelenturannya.
Tetapi sejarah makanan jarang berjalan lurus.
Ia lebih mirip sungai.
Mengalir dari dapur ke dapur, dari tangan ibu kepada anak, dari pasar ke toko, dari kampung ke kota.
Dan dalam perjalanan itu, sebuah makanan rumahan dapat berubah menjadi industri.
---
Dodol pada dasarnya adalah makanan yang sederhana.
Tepung beras ketan.
Gula.
Santan.
Tetapi kesederhanaan bahan tidak berarti kesederhanaan pekerjaan.
Di dalam kuali, bahan-bahan itu harus ditaklukkan oleh api.
Adonan harus terus bergerak.
Tidak boleh dibiarkan terlalu lama.
Sebab bagian bawah bisa gosong sementara bagian atas belum matang.
Pada awal pemasakan, adonan masih cair. Pengaduk dapat bergerak dengan ringan. Tetapi waktu terus berjalan. Air perlahan menguap. Adonan mulai mengental. Pengaduk terasa semakin berat.
Di titik tertentu, membuat dodol berubah menjadi pekerjaan yang membutuhkan tenaga hampir seperti mengolah sesuatu yang keras.
Tangan harus kuat.
Punggung harus tahan.
Mata harus jeli.
Dan pembuatnya harus tahu kapan dodol telah mencapai kematangan yang tepat.
Tidak cukup hanya melihat jam.
Dodol tidak selalu patuh kepada angka.
Ia lebih suka dibaca melalui pengalaman.
Melalui warna.
Aroma.
Kekentalan.
Dan cara adonan bergerak ketika pengaduk ditarik.
Di sinilah resep berubah menjadi pengetahuan.
Pengetahuan berubah menjadi keterampilan.
Dan keterampilan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.(*)
Editor: Muhammad Furqon
