Menilik Program Pembangunan Kebudayaan di Tubaba

img
Patung Megou Pak (Empat Marga) yang berada di Kecamatan TulangbawangTengah Kabupaten Tulangbawang Barat menjadi objek wisata baru.

MOMENTUM, Bandarlampung--Bupati Tulangbawang Barat (Tubaba) Umar Ahmad merupakan satu dari 10 kepala daerah di Indonesia yang akan menerima Anugerah Kebudayaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Penghargaan tersebut diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2020 di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 9 Februari.

Lalu, seperti apa program pembangunan bidang kebudayaan yang digagas Umar Ahmad, sehingga PWI memberikan penghargaan tersebut?

Penasaran akan hal itu, Harian Momentum mencoba melihat langsung ke kabupaten berjuluk Bumi Ragem Sai Mangi Wawai itu.

Bertolak dari Bandarlampung menuju Tubaba melalui Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Kurang dari tiga jam, kami tiba di Gerbang Tol Menggala. Dari gerbang itu, perjalanan berlanjut menuju Kecamatan Tulangbawang Tengah yang menjadi pusat pemerintahan kabupaten setempat.

Kurang dari 30 menit perjalanan, kami disambut bangunan monumen berupa patung relief empat tokoh Buay (cikal bakal garis keturunan kekerabatan) masyarakat adat Lampung di wilayah setempat.

Empat sosok itu: Buay Runjung cikal bakal keturunan dan kekerabatan masyarakat adat di wilayah Megou/marga Tegamon, Buay Bolan di wilayah Bolan Udik dan Bolan Ilir, Buay/Suay Umpu di wilayah Way (sungai) Umpu, Mesuji dan Buay Sepertung di wilayah Aji.

Lokasi monumen itu berada di tepi jalan lintas Tiyuh/Desa Panaragan, Kecamatan Tulangbawang Tengah. Patung Megou Pak (empat marga) begitu masyarakat menyebut nama monumen setinggi kurang lebih 15 meter dengan panjang 40 meter dan ketebalan 6 meter itu.

Monumen itu menggambarkan eratnya kekerabatan dan persatuan masyarakat adat Lampung Pepadun yang tergabung dalam federasi hukum adat Megou Pak Tulangbawang: Marga Tegamon, Bulan, Umpu dan Aji.

Megou Pak merupakan persatuan masyarakat adat yang diatur dalam sistem kepemerintihan kemargaan yang dibetuk pada tahun 1914.

Sistem Kepemerintahan Kemargaan di Kepalai oleh Persirah yang berwenang mengatur kepemerintahan umum sekaligus kepala adat). Sistem kepemerintahan marga itu tidak berlaku lagi setelah dikeluarkannya Keputusan Residen Nomor 152 dan 153 tahun 1952 tentang penghapusan dewan marga dan pembentukan sistem kepemerintahan negeri yang dipimpin Kepala Negeri.

Keputusan penghapuskan sistem kepemerintahan kemargaan, tidak menghapuskan sistem hukum adat yang berlaku dalam federasi Megou Pak Tulangbawang. Kenyataanya sampai saat ini, hukum dan aturan adat Megou Pak masih digunakan dan diakui masyarakat adat Lampung.

Pada tahun 1993, federasi Megou Pak Tulangbawang kembali diaktifkan kembali oleh penyimbang-penyimbang  (tokoh adat) di Menggala.

Pengaktifan kembali federasi adat Megou Pak itu untuk membenahi carut-marut penggunaan aturan dan hak-hak  masyarakat adat yang tidak sesuai lagi dengan kaedah hukum adat yang berlaku.

Begitulah, sejarah singkat terkait Megou Pak Tulangbawang. Kembali lagi ke monumen patung relief Megou Pak yang dibangun Pemkab Tubaba yang di bawah kepemimpinan Bupati Umar Ahmad.

Monumen yang dibangun pada tahun 2016 itu dimaksudkan untuk mengabadikan dan melestarikan adat Megou Pak serta mengenalkannya kepada generasi millenial.

Selain itu, keberadaan patung tersebut menjadi tempat wisata baru di Tubaba. Masyarakat yang melintas, pasti menyempatkan diri untuk berfoto di lokasi monumen tersebut.

**Uluan Nughik
Dari lokasi patung Megou Pak, kami melanjutkan perjalanan ke obyek wisata Kota Budaya Uluan Nughik di Kelurahan Panaraganjaya, Kecamayan Tulangbawang Tengah.

Kota Budaya Uluan Nughik bermakna asal muasal kehidupan. Di kawasan itu, berdiri sejumlah bangunan beronamen khas yang difungsikan sebagai tempat pagelaran kesenian.

Ada juga rumah-rumah tradisional Lampung yang berusia ratusan tahun, dan rumah adat suku baduy. Rencananya, obyek wisata Kota Budaya Uluan Nughik itu akan memiliki luas lima hekatare. Tapi, untuk saat ini masih seluas dua hektare.

**Tugu Rato Nago Besanding
Geser sedikit ke Tiyuh Panaragan, ada Tugu Rato Nago Besanding. Tugu itu menggambarkan pasangan pengantin mengendarai kereta kencana yang ditarik dua ekor naga.

Tugu yang sarat nilai dan makna budaya itu menjadi simbol penghormatan dan kebanggaan terhadap adat istiadat masyarakat setempat.

Tugu Rato Nago Besanding juga menjadi salah satu ikon Kabupaten Tubaba. Lokasinya yang strategis membuat tugu itu mudah terlihat orang dari segala arah. Maka tak heran setiap orang yang melintas di kawasan itu selalu menyempatkan berfoto.

**Sekolah Seni
Untuk lebih mengefektifkan upaya pelestarian budaya, pada tahun 2016 Pemkab Tubaba juga mendirikan Sekolah Seni. Sekolah tersebut menjadi sarana mendidik generasi muda untuk lebih mengenal, memahami dan mencitai kebudayaan daerahnya sebagai warisan kearifan lokal.

Di sekolah itu, masyarakat terutama generasi muda bisa belajar berbagai jenis kesenian, seperti: tari, teater, seni rupa, seni musik hingga film.

Melalui sekolah itu, Pemkab Tubaba ingin banyak melahirkan seniman dan budayawan yang kelak menjadi kebanggan daerah.

Konsep pendidikan di sekolah seni itu mengacu pada prinsip Nenemo: Nemen, Nedes, Nerimo. Prinsip Nenemo yang menjadi filosofi hidup masyarakat Tubaba bermakna: kerja keras, konsisten dan ikhlas.

Selain sekolah seni, pemkab setempat juga membangun Pesantrian Tubaba. Pesantrian itu berkonsep tempat pendidikan tanpa ruang. Untuk belajar di Pesantrian Tubaba, para siswa tidak dipersyaratkan latar belakang dan tingkat pendidikan tertentu.

Siswa-siswa datang, belajar dan tinggal bersama gurunya selama kurun waktu tertentu untuk mempelajari cara pandang dan cara pikir, serta berbagai keterampilan dalam kehidupan sehari-hari.

Gagasan Pesantrian Tubaba itu dicetuskan oleh Gede Kresna, seorang arsitek dari Rumah Intaran di Bali Utara dan Bupati Umar Ahmad.

Umar juga menggagas penyelenggaraan Festival Tubaba sejak tahun 2016. Festival itu merupakan ajang pentas seni dan kebudayaan bagi generasi muda.

Beberapa tangkai kegiatan yang dalam Festival Tubaba, antara lain: teater, tari, musik, seni rupa, pementasan sastra lisan, dan sebagainya.

Tidak hanya itu, Pemkab Tubaba juga membangun Sesat Agung Bumi Gayo Ragem Sai Mangi Wawai. Gedung tersebut digunakan sebagai pusat kegiatan adat, seni, dan budaya masyarakat. Lokasinya bersandingan dengan Masjid Baitus Shobur di komplek Islamic Center Tubaba.

Pembangunan Sesat Agung yang berdampingan dengan Masjid Baitus Shobur iti bermakna "Hidup di Kandung Agung, Mati di Kandung Amal."

Bahkan, guna menciptakan pemerintahan yang ramah budaya, Pemkab Tubaba menerbitkan Peraturan Daerah Nomor: 6 tahun 2019 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Berbagai upaya yang dilakukan Pemkab Tubab berhasil medapat sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sertifikasi WBTB itu diberikan untuk prosesi adat "Ngakuk Maju."

Ngakuk Maju merupakan bentuk prosesi adat perkawinanyang didahului dengan pertunangan. Jangka waktu pertunangan tergantung dari kesepakatan kedua belah pihak.

Setelah puas menyambangi sejumlah lokasi penting di daerah itu, kami berkesimpulan bahwa apa yang temui harianmomentum.com di lapangan sama dengan pemaparan Umar Ahmad di hadapan Panitia HPN beberapa waktu lalu.

Sehingga wajar jika akhirnya dewan juri PWI menetapkan
Umar Ahmad sebagai satu dari sepuluh kepala daerah di Indonesia penerima Anugerah Kebudayaan tahun 2020.

Sayang selama perjalanan kami ke Tubaba tidak sempat berbincang dengan Umar Ahmad. Dia masih sibuk mengajak wisatawan mancanegara keliling ke berbagai sitilus budaya dalam rangka event Sharing Time Megalithic Millenium Art. (Agung Darma Wijaya)



Leave a Comment