Gubernur Tunda Pilkada, Benarkah?

img
Andi Panjaitan, Pemred Harian Momentum.

MOMENTUM, Bandarlampung--Waktu libur selalu kumanfaatkan untuk bercengkerama dengan keluarga dan tetangga di rumah.

Maklum, selama ini rutinitas pekerjaan menuntut untuk lebih banyak menghabiskan waktu di luar.

Saat asyik berbincang dengan tetangga, kemarin siang, tiba- tiba telepon genggamku berbunyi. 

Tanpa melihat identitas si penelpon, langsung kuangkat. Terdengar suara berat seorang lelaki dari ujung telepon menyapa.

Dalam pembicaraan singkat itu, dia mengaku diminta gubernur untuk menghubungi sejumlah wartawan. Termasuk saya.

“Bang, bapak meminta anda untuk datang ke Sultan Agung, pukul 15.00 WIB. Ada informasi penting yang ingin disampaikan ke media,” begitu pesan si penelepon.

Tanpa berpikir panjang, langsung kusanggupi undangan tersebut. Aku pun bergegas mengganti pakaian dan memanaskan mesin kendaraan.

Setelah selesai, langsung kupacu kendaraan menuju rumah pribadi gubernur Lampung.

Ketika sampai, dua orang polisi pamong praja (Pol PP) mengarahkan masuk ke lokasi parkir yang sudah ditentukan.

Sebelum masuk ke ruang pertemuan, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfotik) Provinsi Lampung Achmad Chrisna Putra menyapa.

“Silahkan masuk dinda, semua sudah kumpul. Bapak sudah menunggu,” singkatnya.

Aku pun langsung duduk di kursi yang sudah disediakan. Beberapa pimpinan media ternyata sudah datang lebih dulu. Termasuk sejumlah pejabat di lingkungan pemerintah provinsi (Pemprov) Lampung.

Setelah berbasa- basi sebentar, Gubernur Arinal Djunaidi langsung memulai pertemuan terbatas tersebut.

Dalam paparan singkat itu, dia menyampaikan bahwa pemprov akan mengusulkan ke pemerintah pusat agar pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 Lampung, ditunda.

Alasannya, kasus terkonfirmasi positif corona virus disease 2019 (Covid-19) kian meningkat. Dalam 20 hari terakhir saja, sudah tercatat penambahan 333 kasus di Lampung. 

Artinya, jika dikalkulasikan telah terjadi penambahan sekitar 16 kasus perhari. Angka itu dikhawatirkan akan terus bertambah saat tahapan sosilisasi dan masa kampanye dimulai. 

Sehingga, selaku Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Lampung, dia terpaksa mengambil kebijakan tersebut.

“Kebijakan ini sangat berat. Tapi, demi keselamatan jutaan rakyat Lampung terpaksa saya ambil keputusan ini,” kata Arinal.

Selanjutnya, para wartawan dipersilahkan untuk bertanya terkait kebijakan tersebut. Saya langsung tunjuk tangan. 

Tetapi, belum sempat mengajukan pertanyaan, suara anak kecil sudah lebih dahulu menyadarkan. “Yah, bangun. Sudah azan. Salat magrib dulu,” kata Rania, anak perempuanku.

Asem.. Ternyata keputusan gubernur itu hanya mimpi. Hanya penghias tidurku. Masa pandemi saat ini telah membuatku banyak tidur rupanya.

Aku tertegun. Sembari melangkah ke kamar mandi aku berharap mimpi itu akan menjadi kenyataan.

Bagaimanapun juga, keselamatan rakyat jauh lebih utama dibanding masalah ekonomi atau alasan lainnya. Dan saya berkeyakinan pak gubernur memiliki pemikiran serupa. Semoga saja. Tabikpun. (**)



Berita Terkait

Leave a Comment