Termotivasi Teman, Ferari Kini Jadi Eksportir Cupang

img
Ferari Khadafi, salah satu breeder ikan cupang di Bandarlampung.

MOMENTUM, Bandarlampung--Hampir semua orang sudah tidak asing lagi dengan ikan cupang.

Ikan itu kini semakin populer di kalangan masyarakat. Terlebih pada masa pandemi corona virus disease 2019 (covid-19).

Banyak masyarakat yang berburu ikan hias tersebut. Bahkan hingga menjadi peternak dadakan.

Hal itu pun menjadi berkah tersendiri bagi pembudidaya atau biasanya dikenal breeder ikan cupang.

Salah satunya Ferari Khadafi, breeder ikan cupang sekaligus pemilik Titian Betta di Bandarlampung.

Titian Betta terletak di Jalan Rambutan, Kelurahan Susunanbaru Kecamatan Tanjungkarang Barat.

Ferari mengaku, mulai merintis usaha budidaya ikan cupang sejak pertengahan tahun 2019.

Awalnya, dia termotivasi dari temannya yang juga breeder ikan cupang di Natar Lampung Selatan.

"Awalnya termotivasi dari teman. Karena dia bisa beli mobil dari hasil penjualan ikan cupang," kata Ferari kepada harianmomentum.com, Minggu (14-3-2021).

Meski demikian, dia mengaku, budidaya ikan cupang tidak dijadikan target, melainkan hanya sekedar hobi.

"Jadi laku atau tidak ya tetap enjoy aja. Namanya juga hobi, bukan yang mengejar target," sebutnya.

Hingga kini, dia telah memiliki 60 kolam lubukan dengan dua jenis ikan cupang: giant dan plakat.

"Kita ada dua jenis cupang. Tapi saya lebih fokus ke giant sekarang," kata pria 39 tahun itu.


Dia mengungkapkan, harga ikan cupangnya bervariasi. Untuk cupang jenis plakat dijual dengan harga Rp50 ribu hingga Rp500 ribu perekor.

Sedangkan untuk jenis giant dibandrol dengan harga Rp250 ribu hingga Rp2,5 juta perekornya.

"Yang paling mahal itu biasanya yang berkaitan dengan cooper. Apapun yang berkaitan dengan cooper sekarang lagi naik," tuturnya.

Tidak hanya lokal, Ferari juga menjual ikan cupangnya ke beberapa provinsi di Indonesia.

Bahkan, sudah beberapa kali mengekspor ikan cupang hasil budidayanya ke Malaysia.

"Ada yang dari luar provinsi pesan ke kita. Antara lain: Sabang, Medan, Bandung, NTT, Banjarmasin. Bahkan pernah beberapa kali ekspor ke Malaysia juga," tuturnya.

Pria kelahiran 17 Oktober 1981 itu, biasanya memasarkannya melalui media sosial facebook dan instagram.

Terutama di tengah pandemi covid-19, dia mengungkapkan, pesanan dan penghasilan meningkat hingga tiga kali lipat.

"Pernah dalam satu minggu bisa dapat Rp9 juta. Itu tidak sampai seratus ekor ikan yang dijual," tuturnya.

Walau begitu, dia mengungkapkan, biasanya dalam budidaya ikan cupang ada beberapa kendala yang dihadapi. Seperti cuaca dan air.

Bagi breeder pemula, Ferari memberikan beberapa tips dalam membudidaya ikan cupang.

Pertama, breeder pemula jangan mudah untuk berekspektasi, karena yang dipelihara merupakan makhluk hidup.

"Misalnya ikan itu dijual Rp10 ribu, sekali nelor 100. Artinya dapat Rp1 juta. Banyak breeder yang gagal di sini. Jadi jangan mudah berekspektasi," terangnya.

Kemudian, dalam membudidaya ikan cupang harus dijalani dengan hati. Karena semua breeder yang sukses itu menjalaninya dengan hati.

"Jadi laku atau tidak ya tetap enjoy. Karena kita bicara hobi. Bukan target, target dan target," jelasnya.

Terakhir, breeder pemula harus pintar melihat tren yang dijadikan acuan. Jangan hanya monoton.

"Kita harus membaca tren ke depan. Coba lihat Thailand lagi mengeluarkan apa. Lihatnya di facebook, ada beberapa peternak besar yang menjadi refrensi," bebernya.

Nah, bagi pecinta ikan cupang, terutama jenis giant bisa berkunjung ke Titian Betta.

Bisa juga lihat di akun Instagram @titianbetta atau di akun facebook atas nama Titian Betta. (**)

Laporan/Editor: Agung DW






Editor: Harian Momentum





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos