Jejaring (Sosial) Kejahatan

img
Epin Solanta

MOMENTUM--Publik kembali dikejutkan dengan peristiwa peledakan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Hati Yesus Yang Maha Kudus di Makasar pada Minggu pagi 28 Maret 2021.

belum hilang ketakutan, kecemasan sekaligus keresahan publik dengan situasi di Makasar, Rabu 31 Maret 2021, seorang perempuan kembali melakukan aksi yang “luar biasa” dengan menerobos masuk ke dalam lingkungan Mabes Polri dengan berbekalkan senjata tajam dan map berwarna kuning.

Serangkaian tindakan yang memiliki motif yang hampir sama yakni “meniadakan nyawa orang lain” menjadi preseden buruk kehidupan berbangsa kita. Tak sedikit dari sesama saudara kita di wilayah Nusantara yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke, dengan spirit dan semangat dasar yaitu Pancasila, berusaha untuk menjalankan dinamika kehidupan secara “sadistik." Suatu upaya berkepribadian dan berkelakuan yang jauh dari nilai-nilai humanisme (kemanusiaan). Kasus yang serupa sebenarnya sudah pernah juga terjadi sebelumnya di bumi Nusantara ini.

Sembari kita membangun optimisme dan harapan yang kuat agar perilaku serupa tidak lagi terjadi di kemudian hari, mari kita sejenak mampir untuk sedikit mencermati ulasan sederhana ini, yang tentunya jauh dari kesempurnaan. Setidaknya penulis mencoba untuk menyederhanakan persoalan terorisme yang baru terjadi ini ke dalam dua poin penting, yaitu keterlibatan kaum muda yang usianya sekitar 25 tahun, berstatus sebagai suami sitri (pasutri) dan memiliki jejaring (sosial) kejahatan yang sangat kuat.

Generasi Muda: Aset Bangsa

Tak sedikit publik yang menaruh harapan besar pada generasi muda untuk kemajuan bangsa Indonesia di masa kini dan yang akan datang. Hal ini juga diperkuat oleh modus demografi, dimana angkatan muda memilih jumlah yang banyak. 

Harapan seperti ini adalah sebuah pemicu dan pemacu yang semestinya melahirkan semangat lebih bagi generasi muda untuk senantiasa membangun dan menata masa depan bangsa ke arah yang lebih baik. 

Generasi muda hadir sebagai agen perubahan sosial, yang begitu setia menawarkan kreativitas dan inovasi diri bagi bangsa Indonesia. 

Sayang seribu sayang, harapan yang terlampau tinggi seringkali ditafsirkan secara keliru oleh segelintir orang. Tak sedikit dan mungkin termasuk ke-23 anggota yang berafiliasi dengan kasus bom bunuh diri di Makasar dan penyerangan terhadap Mabes Polri merupakan kelompok yang menafsirkan harapan tersebut secara keliru.

Jika kita telisik lebih mendalam, persoalan keterlibatan anak muda dalam kasus tersebut memberikan sinyalemen yang kuat bahwa tak jarang kelompok kaum muda selalu dibenturkan pada dua kondisi yang sangat kontras, yakni kepribadian yang kritis di satu sisi, dan pribadi yang krisis di sisi lain. 

Anak muda yang kritis tentu saja tak akan mudah untuk menerima setiap tawaran, sugesti dan rayuan lain begitu saja (taken for granted). 

Sebaliknya, ia berusaha untuk mengkritisinya termasuk menimbang dampak baik buruk bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan juga dampak bagi sesama di sekitar. 

Sementara itu, anak muda yang mengalami krisis (banyak aspek), merespon setiap sugesti, tawaran, atau pun rayuan sejenisnya dengan pola iming-iming tertentu, akan menerimanya begitu saja. Tanpa perlu mempertanyakan untung dan buntungnya. 

Ini adalah kondisi anak muda kekinian dengan latar belakang karakter yang selanjutnya tercermin dalam sikap dan perilaku mereka.

krisis diri dalam segala lini kehidupan utamanya yang dirasakan kelompok-kelompok yang terafiliasi dengan teroris menjadi cermin yang senantiasa memantulkan wajah kehidupan berbangsa dan bernegara kita hari ini. 

Terkadang kita sulit dan tak mudah untuk memberikan penilain baik dan buruk seseorang hanya dari tampang luarnya saja. Kita tak bisa membuat sebuah kesimpulan dini bahwa seorang yang dianggap sopan, ramah dan tak banyak bicara adalah anak yang baik misalnya. 

Mungkin kita perlu untuk menanggalkan penilaian-penilaian seperti itu. Karena jauh lebih penting untuk saling mengawasi, mengendalikan dan ada bersama dengan anggota keluarga, daripada terus terlarut dalam pemberian penilaian terhadap yang lain. 

Bagaimana pun, seseorang yang terbiasa hidup dan dibesarkan dengan lingkungan yang selalu mendapatkan pujian, sanjungan dan sejenisnya, ketika berada pada lingkungan yang syarat dengan kritik, kompetisi dan sejenisnya tentu akan mengalami frustrasi. Ini hanya contoh sederhana.

Jejaring (Sosial) Kejahatan

Lukisan nyata perihal tindakan bom bunuh diri, teror di Mabes Polri hingga penangkapan 23 orang yang terduga berafiliasi dengan pelaku kejahatan tersebut memberikan pesan yang sangat jelas kepada kita semua, bahwa kejahatan sejenis ini memiliki jejaring sosial yang kuat. Bahkan operasionalisasinya dilakukan secara terstruktur dan sistematis. 

Sebuah kejahatan yang didesain dengan sangat rapih dan tersebar luas. Sebagaimana yang disampaikan oleh Jenderal Polisi Sigit Prabowo dalam keterangan Jumpa Pers di Jakarta bahwa para terduga teroris itu ditangkap dI Makasar sebanyak 13 orang. salah seorang diantaranya berinisial W yang dikatakan merupakan otak perakit bom. Selanjutnya lima orang di tangkap di Jakarta dan lima lainnya ditangkap di Bima, Nusa Tenggara Barat.

Keterangan ini memberikan konfirmasi kepada kita bahwa para terduga teroris ini tengah membangun pos-pos “kebiadaban” di sejumlah titik di bumi Nusantara. 

Ini tentu saja menjadi perhatian bersama untuk kita, agar selalu berhati-hati sembari terus melakukan pengawasan yang ketat terhadap sesama kita. Karena bagaimana pun juga, peran pengawasan yang ketat dari sesama warga adalah salah satu kunci untuk memutus rantai kejahatan sejenis ini. 

Sebaliknya jika kita membiarkan mereka “tumbuh subur” di lingkungan tempat tinggal kita, justru akan menambah panjang penderitaan hidup kita. Karena bagaimana pun, kecurigaan adalah langkah yang wajar sebagai bab awal dalam mengantisipasi lahirnya persoalan-persoalan besar yang sekiranya juga akan mengancam keamanan dan kenyamanan hidup kita.

Mari kita tetap menjadi warga negara yang berkepribadian dan berkelakuan dengan semangat nilai-nilai Pancasila. Jangan biarkan diri kita beserta seluruh sanak keluarga terbuai dalam rayuan maut yang justru menghantar kita dan juga “orang lain” ke dalam nestapa penderitaan. (**)

(Epin Solanta Penulis Buku Dialektika Ruang Publik: Pertarungan Gagasan)



Leave a Comment