Hampir Kena Tujah

img
Andi Panjaitan, Pemred Harian Momentum.

MOMENTUM-- Tidak mudah menjadi wartawan profesional. Apalagi, jika menyangkut tugas liputan investigasi maupun laporan mendalam (in-depth reporting).

Tentu akan banyak tantangan dan tekanan dari narasumber di lapangan. Saya punya pengalaman yang cukup berkesan soal itu. 

Sekitar 13 tahun lalu, Abdullah Al’Masud (Redaktur Pelaksana) di SKU Bandarlampung News—tempat saya bekerja dulu, menugaskan meliput keberadaan angkutan liar di Bandarlampung.

Fokusnya, angkutan kota (Angkot) berpelat hitam yang sering menunggu penumpang (ngetem) di Jalan Imam Bonjol. Tepatnya, di sekitar Pasar Pasirgintung, Tanjungkarang Pusat.

Tugas saya: mendata jumlah angkot bercat merah itu berikut nomor polisinya. Menelusuri adanya dugaan setoran kepada oknum pejabat di Pemkot Bandarlampung. Termasuk total setoran dan alur pengumpulannya.

Sebab, informasi yang berhasil diperoleh Bang Dule—panggilan akrab Abdullah Al’Masud, angkutan liar itu sengaja dibiarkan beroperasi karena adanya setoran. 

Selain itu, saya juga ditugaskan mewawancarai sejumlah sopir dan konfirmasi terhadap pejabat berwenang di Dinas Perhubungan (Dishub) Bandarlampung.  

Saya diberi waktu tiga hari untuk menyelesaikan semua tugas itu. Termasuk laporan beritanya. Sebagai wartawan, tentu tugas itu wajib saya jalankan.

Hari pertama, saya berhasil mencatat sekitar belasan angkot berpelat hitam. Lengkap dengan nomor polisi kendaraan. Setelah itu, mewawancarai sopir dengan berpura- pura menjadi penumpang.

Hari kedua, saya kembali mendata angkot tersebut di jembatan dekat Pasar Pasirgintung, tepatnya di depan Hotel RedDoorz saat ini.

Apes, keberadaan saya di hari itu diketahui oleh seorang oknum yang diduga preman sekaligus agen angkot setempat. Mungkin, dia curiga dengan gerak- gerik saya yang bertindak layaknya petugas sensus.

Tanpa basa- basi dia langsung menghampiri dan memegang pergelangan tangan saya. “Api gawimu nyatat angkot dija. Dang macam-macam yu, ki mawat haga kutujah” (Untuk apa kamu mencatat angkot di sini? Jangan macam- macam ya, saya tujah kamu nanti).

Merasa keselamatan terancam, saya langsung berkelit bahwa Pemkot Bandarlampung menugaskan saya mendata angkot untuk pemetaan jumlah angkutan.

Meski pun saya sempat gemetaran melihat badik yang terselip di pinggang oknum itu, akhirnya dia percaya dan saya selamat dari maut. Alhamdulillah. 

Singkat cerita, berita yang saya tulis itu berhasil menjadi laporan utama (headline) Bandarlampung News saat itu. Oleh Bang Dule, berita itu diberi judul “Angkutan Liar Merajalela”.

Seiring waktu berjalan, ancaman terhadap pekerja pers dari oknum preman sudah jarang terjadi, saat ini. Justru intimidasi selalu datang dari kalangan berdasi. 

Terutama oknum pejabat pemerintah yang memiliki kekuatan super. Tak jarang, mereka mengekang kebebasan pers dengan memberedel media. Apalagi, jika pemberitaan media tersebut tidak berpihak terhadap kebijakannya.

Atas dasar itu, momentum “Hari Kebebasan Pers Sedunia” yang jatuh pada 3 Mei 2021 dapat dijadikan pemerintah sebagai bahan renungan untuk menjamin kebebasan pers.

Sekitar 28 tahun lalu, Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) telah memproklamirkan hari bersejarah itu untuk mengingatkan semua kalangan akan pentingnya hak kebebasan pers. 

Jangan ada lagi intimidasi maupun kekerasan terhadap pekerja pers. Sudahi pemberedelan terhadap media.

Percayalah, pers sehat tentu akan menjadikan negara kuat! Tabikpun. (**)



Berita Terkait

Leave a Comment