MOMENTUM -Â Piala Dunia selalu lahir dengan satu janji: siapa pun boleh bermimpi.
Negara kecil boleh menantang raksasa. Pemain yang nyaris tak dikenal boleh mencuri perhatian dunia. Tim yang datang tanpa sejarah panjang boleh pulang sebagai legenda.
Di sanalah letak keajaiban Piala Dunia. Turnamen ini selalu memberi ruang bagi kisah-kisah yang melampaui hitung-hitungan di atas kertas.
Namun, Piala Dunia 2026 memunculkan pertanyaan yang mulai mengusik: apakah keajaiban itu masih hidup, atau panggung terbesar sepak bola dunia pada akhirnya selalu kembali menjadi milik mereka yang telah memiliki nama besar?
Turnamen memang belum berakhir. Babak semifinal baru akan dimulai. Tetapi perjalanan menuju empat besar sudah menghadirkan satu kenyataan: tim-tim yang membawa mimpi sebagai penantang satu per satu berguguran.
Maroko, simbol kebangkitan sepak bola Afrika, kembali harus mengakhiri langkah ketika berhadapan dengan Prancis. Singa Atlas yang dalam beberapa tahun terakhir memukau dunia dengan keberanian dan organisasi permainan akhirnya kembali tak mampu melewati tembok kekuatan tradisional sepak bola dunia.
Sebelumnya, Mesir menghadirkan kisah yang jauh lebih dramatis.
Di bawah asuhan Hossam Hassan, mantan penyerang legendaris Mesir yang dikenal berkarakter keras dan penuh semangat, The Pharaohs datang bukan sekadar menjadi peserta. Bersama Mohamed Salah dan generasi baru seperti Mostafa Zico, mereka membawa harapan besar bagi Afrika.
Dan mereka nyaris menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia.
Menghadapi Argentina yang dipimpin Lionel Messi, Mesir unggul 2-0 hingga menjelang akhir pertandingan. Ketika Messi gagal mengeksekusi penalti, dunia mulai percaya bahwa sejarah benar-benar akan berpihak kepada Mesir.
Namun sepak bola selalu memiliki caranya sendiri untuk mengubah cerita.
Argentina bangkit. Tekanan demi tekanan dilancarkan. Keunggulan Mesir perlahan runtuh hingga akhirnya berbalik kalah 2-3.
Kontroversi kemudian muncul ketika wasit menganulir gol indah Mesir, setelah menilai (melalui VAR) terjadi pelanggaran dalam proses terciptanya gol.
Keputusan itu memicu perdebatan dan menambah kepedihan bagi kubu Mesir yang merasa telah begitu dekat dengan sejarah.
Hossam Hassan pun tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Seusai pertandingan, ia mempertanyakan keputusan wasit yang dinilainya merugikan timnya.
Tentu saja, pernyataan seorang pelatih setelah mengalami kekalahan besar selalu dipengaruhi emosi. Namun, di balik kekecewaan itu tersimpan pertanyaan yang jauh lebih besar tentang arah sepak bola modern.
Apakah sepak bola masih menjadi arena yang benar-benar terbuka bagi siapa saja?
Sepak bola hari ini bukan lagi sekadar pertandingan selama 90 menit. Ia telah menjadi industri bernilai miliaran dolar. Hak siar, sponsor, pemasaran global, hingga nilai komersial membuat setiap pertandingan memiliki kepentingan yang jauh melampaui lapangan hijau.
Nama-nama besar menghadirkan daya tarik ekonomi yang sulit diabaikan.
Karena itu, ketika satu per satu tim kejutan tersingkir dan panggung akhir kembali dipenuhi negara-negara yang sudah lama menguasai sepak bola dunia, muncul kekhawatiran bahwa Piala Dunia perlahan kehilangan salah satu pesona terbesarnya.
Padahal justru kejutan itulah yang selama ini membuat Piala Dunia berbeda dari turnamen mana pun.
Dunia membutuhkan kisah seperti Maroko yang berani menantang batas. Dunia membutuhkan Mesir yang hampir menjatuhkan Argentina. Dunia membutuhkan pemain yang sebelumnya tak dikenal, lalu dalam semalam berubah menjadi pahlawan bangsanya.
Karena sejatinya Piala Dunia bukan hanya tentang siapa yang akhirnya mengangkat trofi.
Piala Dunia hidup karena keyakinan bahwa siapa pun masih memiliki peluang menciptakan sejarah.
Jika keyakinan itu perlahan memudar, Piala Dunia mungkin tetap menjadi tontonan olahraga terbesar di dunia. Stadion akan tetap penuh, hak siar akan terus memecahkan rekor, dan bintang-bintang akan terus lahir.
Namun ada sesuatu yang perlahan menghilang—sesuatu yang selama puluhan tahun membuat miliaran orang jatuh cinta kepada sepak bola. Yaitu, Keajaiban!
Tabik.
Editor: Muhammad Furqon
