Oleh: Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto
MOMENTUM -- Meluruhnya dominasi tunggal Amerika Serikat (AS) dalam percaturan global mendorong lahirnya tatanan dunia yang semakin multipolar. Di tengah perubahan tersebut, negara-negara berkembang berupaya memperkuat kedaulatan dengan memperluas kemitraan strategis tanpa terjebak dalam blok kekuatan tertentu.
Dalam konteks itu, Indonesia memiliki posisi penting. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan letak geografis yang strategis di jalur Indo-Pasifik, Indonesia menjadi mitra yang diperhitungkan oleh banyak kekuatan besar, termasuk AS dan China.
Karena itu, rencana menjadikan Bandara Kertajati sebagai pusat Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat C-130 Hercules di Asia bukan sekadar proyek teknis industri aviasi. Di balik peluang ekonomi, transfer teknologi, dan penciptaan lapangan kerja, tersimpan implikasi geopolitik yang patut dicermati.
Di atas kertas, peluang tersebut tampak menjanjikan. Pemerintah melihat pengembangan fasilitas MRO Hercules sebagai bagian dari penguatan industri pertahanan nasional sekaligus upaya menghidupkan Bandara Kertajati sebagai simpul logistik strategis. Amerika Serikat disebut siap mendukung pembiayaan dan pengembangan fasilitas tersebut sehingga armada Hercules dari berbagai negara di kawasan dapat melakukan perawatan di Indonesia.
Jika dikelola serius, manfaat ekonomi yang diperoleh Indonesia tentu tidak kecil. Kapasitas teknisi nasional dapat meningkat, industri aviasi domestik memperoleh limpahan pengetahuan dan teknologi, sementara ekosistem logistik dan industri pendukung di Jawa Barat berpeluang tumbuh. Dalam konteks lebih luas, proyek ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai industri pertahanan regional.
Namun, persoalannya tidak sesederhana urusan bengkel pesawat.
Dalam geopolitik modern, hampir tidak ada proyek strategis yang benar-benar netral. Pelabuhan, bandar udara, pusat logistik, hingga fasilitas pemeliharaan sering kali memiliki makna ganda: ekonomi di permukaan, strategis pada kedalaman.
Karena itu, ketika Kertajati diarahkan menjadi pusat MRO pesawat Hercules di Asia, pertanyaan yang layak diajukan bukan hanya seberapa besar keuntungan ekonomi yang akan diperoleh, melainkan juga apa konsekuensi geopolitiknya bagi Indonesia.
Geopolitik Tidak Pernah Netral
Dalam praktik hubungan internasional, garis pemisah antara fasilitas sipil strategis dan infrastruktur pendukung operasi pertahanan sering kali sangat tipis. MRO memang bukan pangkalan militer. Akan tetapi, dalam logika geopolitik, penguasaan logistik dan pemeliharaan adalah bagian penting dari arsitektur pertahanan modern.
Pesawat angkut seperti C-130 Hercules bukan sekadar alat transportasi biasa. Ia menjadi tulang punggung mobilitas militer di banyak negara, mulai dari pengangkutan pasukan, bantuan logistik, hingga operasi kemanusiaan dalam kondisi darurat.
Ketika Indonesia menjadi pusat perawatan armada tersebut di tingkat regional, posisi strategis Kertajati otomatis meningkat. Tidak lagi semata sebagai bandara sipil, tetapi juga simpul penting dalam mata rantai logistik pertahanan kawasan.
Di titik inilah kehati-hatian menjadi mutlak.
Sejarah hubungan global menunjukkan bahwa pengaruh asing pada abad modern tidak selalu hadir melalui invasi terbuka. Pengaruh itu tumbuh secara perlahan melalui investasi, teknologi, pembiayaan, sistem logistik, hingga ketergantungan industri.
Ketika suatu negara mulai bergantung pada rantai pasok, teknologi, dan dukungan teknis negara lain, ruang pengaruh pihak pemberi dukungan pun ikut membesar.
Indonesia tentu perlu belajar dari pengalaman banyak negara yang mengalami penyempitan ruang strategis akibat ketergantungan teknis yang tidak disadari sejak awal.
Di sinilah pesan Panglima Besar Jenderal Soedirman menemukan relevansinya: “Pertahankan rumah serta halaman pekarangan kita sekalian.”
Pesan itu tidak sekadar berbicara tentang pertahanan fisik, melainkan juga tentang menjaga ruang strategis bangsa dari berbagai bentuk penetrasi kepentingan yang kerap datang secara halus.
Kertajati dan Pergeseran Konflik Asia
Kekhawatiran publik terhadap proyek strategis seperti ini bukan tanpa dasar.
Dalam beberapa tahun terakhir, rivalitas AS dan China di kawasan Indo-Pasifik semakin terbuka. Laut China Selatan menjadi arena ketegangan geopolitik. Selat Taiwan juga terus berada dalam situasi sensitif yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi eskalasi terbuka.
Di saat yang sama, AS terus memperkuat jejaring logistik dan pertahanannya di kawasan Asia melalui berbagai pola kerja sama dengan negara-negara mitra.
Dalam konteks ini, Kertajati memiliki nilai strategis tersendiri. Secara geografis, posisinya dekat dengan jalur perdagangan internasional dan relatif strategis sebagai simpul dukungan logistik kawasan.
Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menghadapi konsekuensi geopolitik jika fasilitas tersebut kelak dipersepsikan sebagai bagian dari kepentingan strategis salah satu kekuatan besar?
Pengalaman negara lain memberikan pelajaran berharga.
Filipina, misalnya, memulai kerja sama teknis dan logistik pertahanan yang kemudian berkembang menjadi skema kerja sama lebih luas melalui Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA). Walaupun konteks Indonesia berbeda, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur yang semula diposisikan teknis dapat berkembang menjadi bagian dari konfigurasi keamanan regional.
Karena itu, kewaspadaan bukanlah sikap anti kerja sama. Ia justru bentuk tanggung jawab menjaga ruang gerak strategis bangsa.
Ujian Politik Bebas Aktif
Sejak masa awal kemerdekaan, Indonesia memilih jalan politik luar negeri bebas aktif. Indonesia tidak masuk ke dalam blok militer mana pun, tetapi tetap aktif membangun perdamaian dan menjalin hubungan dengan semua pihak.
Prinsip ini menjadi salah satu warisan diplomasi paling penting yang dimiliki bangsa Indonesia.
Namun, di tengah dunia yang semakin kompleks, batas antara kerja sama ekonomi, teknologi, dan kepentingan keamanan menjadi semakin kabur. Sebuah proyek yang tampak teknis pada awalnya dapat memiliki implikasi strategis dalam jangka panjang.
Karena itu, setidaknya terdapat tiga risiko yang perlu dihitung secara matang.
Pertama, risiko ketergantungan teknologi dan logistik. Jika sistem perawatan, perangkat lunak, hingga pasokan suku cadang terlalu bergantung pada satu negara, maka fleksibilitas Indonesia dalam menentukan arah modernisasi alutsista dapat ikut menyempit.
Kedua, risiko persepsi geopolitik. Dalam rivalitas Washington–Beijing, fasilitas strategis yang didukung AS dapat dipersepsikan berbeda oleh China. Padahal hubungan ekonomi Indonesia–China selama ini sangat penting, terutama pada sektor perdagangan dan investasi.
Ketiga, risiko keamanan nasional. Dalam situasi konflik terbuka di kawasan, fasilitas logistik strategis dapat masuk dalam kalkulasi keamanan pihak-pihak yang bertikai. Dalam perang modern, simpul logistik bukan lagi sekadar fasilitas pendukung, melainkan bagian vital dari operasi.
Di titik inilah politik bebas aktif diuji secara nyata.
Belajar dari Singapura
Indonesia sesungguhnya memiliki contoh menarik di kawasan: Singapura.
Negara kecil itu mampu membangun hubungan strategis dengan banyak kekuatan besar tanpa kehilangan kendali nasionalnya. Mereka membuka ruang kerja sama pertahanan dan ekonomi, tetapi tetap menjaga kendali penuh atas operasional, keamanan data, serta kepentingan strategisnya.
Pelajaran pentingnya sederhana: kerja sama boleh dibuka, tetapi kontrol tidak boleh dilepaskan.
Jika proyek Kertajati diwujudkan, Indonesia perlu memastikan setidaknya empat prinsip dijaga ketat.
Pertama, kendali operasional tetap berada di tangan Indonesia.
Kedua, transfer teknologi harus nyata, terukur, dan menguntungkan industri nasional.
Ketiga, pengawasan keamanan dan data sepenuhnya berada di bawah otoritas pemerintah Indonesia dan TNI AU.
Keempat, tidak boleh ada ruang bagi akses militer permanen terselubung di luar kepentingan nasional Indonesia.
Tanpa prinsip-prinsip tersebut, Indonesia berisiko memperoleh keuntungan ekonomi jangka pendek, tetapi kehilangan keluwesan strategis dalam jangka panjang.
Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Pada akhirnya, isu Kertajati bukan sekadar tentang Hercules atau pembangunan fasilitas MRO semata. Yang sedang diuji adalah kemampuan Indonesia membaca bentuk baru persaingan global.
Pada abad ini, pengaruh asing tidak selalu hadir melalui kapal perang dan moncong senjata. Ia datang melalui investasi, teknologi, logistik, dan ketergantungan strategis yang tumbuh perlahan.
Indonesia tentu tidak boleh alergi terhadap kerja sama internasional. Menutup diri hanya akan membuat bangsa ini tertinggal. Akan tetapi, Indonesia juga tidak boleh naif. Dalam hubungan antarnegara, setiap kerja sama selalu mengandung kepentingan.
Karena itu, Kertajati dapat menjadi titik kebangkitan industri pertahanan nasional—tetapi hanya jika Indonesia benar-benar bertindak sebagai tuan rumah yang berdaulat: menguasai teknologi, mengendalikan operasional, dan menentukan sendiri arah strategisnya.
Sejarah mengajarkan satu hal penting: bangsa besar bukanlah bangsa yang menutup pintu terhadap dunia, melainkan bangsa yang mampu bekerja sama tanpa menyerahkan halaman rumahnya sendiri. (**)
Editor: Muhammad Furqon
