Disdikbud Pringsewu Gelar Festival Kuda Lumping

img
Fstival Kuda Lumping di Kabupaten Pringsewu

Harianmomentum.com--Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, menggelar Festival Kuda Lumping Tahun 2018. Festival yang berlangsung di Pekon/Desa Tulungagung, Kecamatan Gadingrejo itu diikuti 25 group dari seluruh wilayah kabupaten setempat.

Kepala Bidang Kebudayaan pada Disdikbud Pringsewu Safril Saleh mengatakan, festival tersebut merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun. "Festival kuda lumpung tahun ini yang ketiga kali kita laksanakan," ujar Safril pada harianmomentum.com, Rabu (29/08). 

Dia menambahkan, festival tersebut akan berlangsung selama dua hari: Rabu hingga Kamis (29 dan 30 Agustus 2018). Pada festival tersebut setiap grup terdiri dari 15 hingga 20 orang anggota yang bertugas sebagai  penari dan penabuh gamelan. Mereka diberi waktu 15 menit  untuk menampilkan atraksi andalanya.

"Untuk festival ini , peserta atau penarinya tidak boleh mabuk (kesurupan). Kalau? sampai mabuk maka akan terkena diskualifikasi," jelasnya.

Menurut Safril, untuk tim penilaian terdiri dari: budayawan, tokoh seni serta ahli dalam kesenian tersebut. Ketegori penilaian meliputi: keserasian seragam dan kekompakan antara penari dengan penabuh gamelan. "Selian piala dan piagam penghargaan, pemenang festival ini akan mendapatkan uang  pembinaan," terangnya.

Bupati Pringsewu Sujadi dalam sambutanya mengatakan, kegiatan tersebut salah satu bentuk komitmen pemkab dan masyarakat setempat dalam melestarikan kebudayaan daerah.

"Ini bukan saja sekedar memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesi ke 73 dan Hari Ulang Tahun Pekon Tulungagung ke 100. Lebih dari itu, adalah bentuk sinergi masyarakat dan Pemkab Pringsewu dalam melestarikan kebudayaan daerah," kata bupati saat membuka festival tersebut.

Menurut bupati, kebudayaan daerah merupakan aset penting dalam pembangunan. Karena itu, diperlukan komitmen dan peran aktif seluruh lapisan masyarakat untuk terus melestarikan kebudayaan daerah sebagai warisan kearifan lokal. (lis)


Leave a Comment