Salam Kangen Buat Walikota

img
Andi Panjaitan, Pemred Harian Momentum

MOMENTUM, Bandarlampung--Telepon dari seorang ketua rukun tetangga (RT), siang tadi, membuatku kaget. 

Apakah ingin memberi bantuan beras lima kilogram dari walikota Bandarlampung?

Tapi rasanya tak mungkin. Saya tidak pantas mendapatkan beras itu. Lagian mustahil juga, karena saya bukan warganya. Ada apa gerangan? 

Mungkin ada persoalan penting, hingga tiga kali telepon genggam bututku berdering dan tertera namanya di layar. Akhirnya kuangkat. 

Dari ujung telepon kudengarkan suara lemasnya berucap salam. Mungkin bawaan puasa.

Akupun menjawab dan menanyakan kabar padanya. Setelah berbasa- basi sebentar, dia mencurahkan isi hati (curhat) kepadaku.

Dalam obrolan itu, dia mengaku bingung karena sebentar lagi mau lebaran. Terlebih, kondisi pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19) sedang melanda.

Sehingga usaha kecil- kecilan yang dia tekuni selama ini terancam bangkrut. Untuk sekedar makan pun terpaksa harus menjual barang. Sedih.

"Namun, kondisi paceklik sekarang ini masih bisa teratasi jika kau mau membantu," harapnya dari ujung telepon.

"Mohon maaf. Beribu kali maaf. Bukannya tidak bersedia membantu, tapi kondisi keuanganku saat ini sedang paceklik juga," ujarku datar.

Dia langsung memotong pembicaraan. "Bukan itu maksudku. Aku tidak berniat meminjam modal padamu. Aku hanya minta tolong, sampaikan kepada walikota kapan insentif Ketua RT dibayarkan?" ujarnya.

Dia menjelaskan, hingga kini sudah enam bulan lamanya insentif para RT, Kepala Lingkungan (Kaling), Babinsa dan Babinkamtibmas belum dibayarkan.

Rinciannya: dua bulan (Nopember-Desember) di tahun 2019. Setiap bulannya sebesar Rp1,2 juta.

Kemudian empat bulan di tahun 2020 (Januari hingga April). Di tahun ini, insentif sudah naik jadi Rp1,5 juta perbulan.

Jadi, jika insentif enam bulan itu dibayarkan oleh Walikota Bandarlampung, kami dapat uang sekitar Rp8,4 juta. "Kan lumayan. Bisa nyambung nafas untuk lebaran," katanya sambil tertawa.

Baiklah. Akan kusampaikan keluhanmu kawan. Kataku meyakinkan sembari menutup sambungan telepon. 

Meski belakangan aku bingung bagaimana caranya. Ingin bicara langsung, nanti dituduh musuh politik. Apalagi belakangan ini hubungan kami kurang harmonis.

Jika melalui lurah dan camat, kuyakin mereka pun tidak akan berani menyampaikannya.

Tidak disampaikan, terbayang wajah tiga ribuan Ketua RT--ujung tombak pemerintahan di kota ini yang menantikan uang insentif itu. Begitu juga para Babin.

Ironi. Ya sudah, kutulis saja melalui rubrik ini. Mudah- mudahan walikota membaca dan segera memberi solusi. Bukan sekedar janji. Itu saja. Tabikpun. (*)






Editor: Harian Momentum





Berita Terkait

Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos