Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir Terima Kartu Wartawan Utama Khusus

img
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir bersama Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat. Foto: Ist.

MOMENTUM, Jakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menerima Kartu Wartawan Utama Khusus dari Dewan Pers sebagai bentuk pengakuan atas kiprah panjangnya di dunia jurnalistik. 

Penghargaan tersebut diberikan Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat pada Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026).

Kartu Wartawan Utama Khusus tersebut sebelumnya disetujui Dewan Pers pada Maret 2026. Pengakuan itu diberikan atas perjalanan Haedar Nashir sebagai insan pers yang telah berlangsung lebih dari empat dekade, sejak aktif menulis saat masih menjadi mahasiswa hingga saat ini.

Dalam kesempatan tersebut, Haedar menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas penghargaan yang diberikan Dewan Pers. Ia menyebut dunia jurnalistik telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

"Secara persisnya, ada yang mungkin lebih awal lagi atau lebih lanjut. Saya benar-benar menjadi wartawan di Suara Muhammadiyah, media tertua di Indonesia yang berdiri pada 1915," ujar Haedar seperti dilansir muhammadia.or.id.

Menurut Haedar, pers tidak hanya berfungsi sebagai sarana menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan, mencerdaskan masyarakat, dan membangun peradaban.

Kegiatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 tersebut diinisiasi Majelis Pustaka Informasi (MPI) PP Muhammadiyah bersama Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (UKW) UMJ.

Ketua MPI PP Muhammadiyah Muchlas MT mengatakan pers memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Muhammadiyah. Hal itu ditandai dengan terbitnya Suara Muhammadiyah yang menjadi salah satu media tertua di Indonesia.

Menurutnya, keberadaan pers dan tradisi literasi bukan sekadar alat komunikasi organisasi, tetapi menjadi bagian dari gerakan intelektual dan dakwah Muhammadiyah sejak awal berdiri.

"Sejarah tersebut menunjukkan bahwa pers dan literasi bukan sekadar instrumen komunikasi Muhammadiyah, tetapi merupakan bagian dari tradisi intelektual dan gerakan pencerdasan dakwah," kata Muchlas.

Ia menilai literasi telah menjadi bagian dari karakter gerakan Muhammadiyah yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Karena itu, PP Muhammadiyah menetapkan 13 Agustus sebagai Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah sebagai bentuk penghargaan terhadap perjalanan panjang pers dalam gerakan Muhammadiyah.

Sementara itu, Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat menekankan pentingnya peran wartawan profesional di tengah derasnya arus informasi.

Menurutnya, masyarakat saat ini menghadapi tantangan berupa maraknya informasi palsu dan disinformasi sehingga membutuhkan pers yang memiliki integritas, tanggung jawab, dan komitmen terhadap kebenaran.

"Berita hari ini banyak yang hoaks dan palsu. Banyak sekali disinformasi. Padahal masyarakat itu kebutuhan pada informasi itu layaknya kebutuhan pada udara dan minum," ujarnya.

Ia mengapresiasi keterlibatan Muhammadiyah dan berbagai elemen masyarakat dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat. Menurutnya, informasi yang diterima publik harus melalui proses verifikasi agar mampu memberikan pencerahan dan pemahaman yang benar.

Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 menjadi momentum untuk meneguhkan kembali peran pers sebagai pilar demokrasi sekaligus bagian dari gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa.(*)






Editor: Muhammad Furqon





Leave a Comment

Tags Berita

Featured Videos